DISKUSI KESEHATAN MASYARAKAT

Memaksimalkan segala upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

PERAN FAKTOR PERILAKU DALAM PENERAPAN INISIASI MENYUSU DINI DI KOTA PAREPARE (Role Of Behavioral Factors In Early Breastfeeding Initiation In Parepare City)

pada 7 April 2010

Muhammad Idris1, H. M. Rusli Ngatimin2, Muh. Syafar2

1Dinas Kesehatan Kota Parepare Sulawesi Selatan, 2Konsentrasi Promosi Kesehatan PPS Unhas

Alamat Korespondensi : Dinas Kesehatan Jl. Ganggawa No. 3 Kota Parepare Telepon/Fax : (0421) 26816 / Mobile : 085796923686  Email : midris70@yahoo.co.id or M.I.20121970@gmail.com

ABSTRACT

In behavioral context, successful of early breastfeeding initiation by breast crawl was influenced by internal and external behavioral factors. The aims of the research are to explore information concerning role of behavioral factors and also described about health officer’s communication strategies to apply in early breastfeeding initiation. This research used inductive paradigm with ethno-methodology approach to assist researcher viewed community opinions about various behavioral choices in their everyday life related decision to conducted early breastfeeding initiation. Result of qualitative analysis showed relevance between some internal and external behavioral factors with early breastfeeding initiation. Internal factors which role to early breastfeeding initiation were attitude and knowledge about colostrums, knowledge about early breastfeeding initiation, lactation experience and motivation.  Mother’s motivation to conduct lactation practice constituted by social, economics, trust, and health aspect, while motivation to conduct early breastfeeding initiation stimulated by desire to try something new (novelty). External factors which roles to early breastfeeding initiation were health service facility, delivery helper and behavioral tendency in living place related lactation practices, also family and closest people. The main source of information concerning early breastfeeding initiation for mother was midwife. This research concluded the existence of role from internal and external behavioral factors to readiness of mother to conduct early breastfeeding initiation, and recommended ‘ready to handle plan’ and advocate training of midwife concern early breastfeeding initiation  and also research follow-up to get more useful result.

Keywords: initiation, colostrums, midwife

PENDAHULUAN

Berbagai penelitian telah membuktikan secara ilmiah manfaat dari perilaku menyusu dini, baik bagi ibu maupun bayinya. Manfaat tersebut antara lain menurunkan angka kematian bayi dan menghentikan perdarahan paska melahirkan dengan lebih cepat1,2, mempercepat terlepasnya placenta dan meningkatkan interaksi antara ibu dan bayi3, meningkatkan keberhasilan dan lama menyusui4,5, mereduksi angka kejadian diare dalam usia 6 bulan pertama6, menurunkan angka kematian bayi dibawah usia 28 hari2,7, serta meningkatkan keberhasilan pemberian ASI ekslusif4,8.

Dalam konteks perilaku, keberhasilan inisiasi menyusu dini dengan cara membantu bayi mencari dan menyusu pada payudara ibu dengan instinknya sendiri (breast crawl), dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal perilaku. Pada kenyataannya, sampai saat ini informasi mengenai berbagai faktor perilaku yang berperan terhadap perilaku inisiasi menyusu dini masih sangat terbatas padahal informasi tersebut dapat membantu merumuskan strategi penerapannya secara efektif di masyarakat.

Penelitian ini difokuskan pada upaya menggali informasi mengenai faktor perilaku serta kondisi yang mendukung dalam melakukan inisiasi menyusu dini serta mengidentifikasi cara petugas memperkenalkan inisiasi menyusu dini kepada ibu dan keluarganya.

BAHAN DAN METODE

Desain dan Lokasi Penelitian

Penelitian tentang peran faktor perilaku dalam penerapan inisiasi menyusu dini menggunakan paradigma induktif dengan pendekatan etnometodologi dan dilaksanakan di Kota Parepare, pada bulan Maret – Juni 2009. Kota Parepare berpenduduk 115.076 jiwa dengan rincian 54.769 jiwa laki-laki dan 60.307 jiwa perempuan8.

Informan dan Informan Kunci

Informan dipilih secara purposif dengan teknik bola salju9. Informan terdiri dari 6 orang ibu IMD, 4 orang ibu bukan IMD, 3 orang bidan dan 1 orang informan kunci. Informan kunci adalah sosok yang berpengaruh secara struktural, sosial dan budaya serta mempunyai pengetahuan mengenai topik yang dibahas.

Pengumpulan Informasi

Pengumpulan data dilakukan melalui indepth interview. Untuk keperluan ini peneliti membuat kerangka dan garis-garis pokok materi yang akan ditanyakan dalam proses wawancara. Pelaksanaan wawancara dan urutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan informan.

Teknik Analisis

Informasi yang terhimpun diolah dengan model analisa editing, untuk menemukan bagian-bagian yang bermakna terkait topik penelitian10. Akurasi dan keabsahan informasi diuji dengan metode triangulasi sumber dan pengecekan ulang kepada informan (member check)11.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil wawancara mendalam menunjukkan adanya keterkaitan antara beberapa faktor perilaku baik yang bersifat internal maupun eksternal terhadap kesediaan ibu melakukan inisiasi menyusu dini.

Analisa Faktor Internal

Faktor internal perilaku yang menjadi sasaran analisis meliputi pengetahuan, sikap, pengalaman, persepsi dan motivasi terkait perilaku menyusui, kolostrum dan inisiasi menyusu dini. Komponen pengetahuan yang dinilai berperan terhadap penerimaan inisiasi menyusu dini (IMD) adalah pengetahuan tentang kolostrum. Konklusi ini didasarkan pada hasil analisis yang memperlihatkan perbedaan respon antara kelompok ibu IMD dan ibu bukan IMD. Ibu IMD dapat mengidentifikasi apa yang disebut kolostrum dan juga memberikan kepada bayinya. Sementara ibu bukan IMD tidak memahami dan juga tidak memberikan kepada bayinya dengan berbagai alasan.

“…kolostrum itu air susu yang keluar pada hari pertama,… berwarna kekuning-kuningan… imunisasi yang pertama untuk bayi kita…”(Ny.UH, 30 tahun-IMD)

“ …waktu kulahirkanki anakku, lemas sekali ka’ jadi mamakku bilang, janganmi dulu susuiki…” (Ny.Er, 21 tahun-bukan IMD)

Informan yang mengetahui manfaat kolostrum cenderung bersikap positif terhadap kolostrum dan sangat mungkin menjadi salah satu alasan untuk menerima praktek IMD. Hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap kolostrum dan IMD antara lain disimpulkan dari penelitian yang dilakukan di Ghana, … many women from Northern ethnic groups had strong beliefs about colostrum being dirty and harmful to the baby and thus delayed breastfeeding until the ‘good’ milk arrived12.

Ibu yang merasa kolostrum itu penting, akan lebih mudah menerima saran bidan untuk melakukan inisiasi. Apalagi kepercayaan yang besar terhadap petugas yang menolong persalinan akan membuat mereka tetap melakukannya. Ibu bukan IMD meski mengaku sering mendengar istilah  ‘kolostrum’ baik melalui tayangan televisi, siaran radio lokal maupun melalui posyandu, tapi pemahaman mereka tidak memadai, sehingga keputusan untuk memberikan kolostrum tersebut mudah dipengaruhi oleh faktor lain yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

Komponen pengetahuan yang lain seperti manfaat, frekuensi dan cara menyusui yang benar tidak berperan terhadap praktek inisiasi menyusu dini. Hal ini ditunjukkan oleh kemiripan respon dari kedua kelompok informan, sehingga dapat disimpulkan bahwa baik ibu IMD maupun ibu bukan IMD mempunyai pengetahuan yang sama terkait komponen pengetahuan yang disebutkan.

Komponen pengetahuan tentang inisiasi menyusu dini tidak berperan ketika perilaku tersebut dilakukan untuk pertama kalinya, hal ini terlihat dari respon yang menunjukkan bahwa baik ibu IMD maupun ibu bukan IMD tidak mempunyai pengetahuan tentang inisiasi menyusu dini. Ibu IMD ketika melakukannya untuk pertama kali tidak berdasarkan pada pengetahuannya, melainkan semata-mata karena kepercayaannya kepada petugas penolong persalinan.

“…iye’ saya tidak pernah dikasi tau sebelumnya, nantipi lahir anakku terus itu bidan kasi naik ke perutku, dia bilang tidak usah takut ini tidak apa-apa…” (Ny. Rkm, 36 tahun-IMD)

Namun demikian, ibu yang telah melakukan inisiasi menyusu dini lebih berpeluang untuk mengulangi perilaku tersebut.

“…iya, kalau bidannya kasi begituki lagi kita pasti bersedia karena sudah pernah…”(Ny. Ftm, 25 tahun-IMD)

Faktor sikap yang berperan terhadap kesediaan ibu melakukan inisiasi menyusu dini, adalah sikap terhadap kolostrum. Komponen sikap ini terlihat cukup positif pada ibu IMD. Sementara ibu bukan IMD memperlihatkan respon yang negatif.

“…itu kan banyak manfaatnya untuk bayi jadi seharusnya dikasih, pak …”(Ny.UH, 30 tahun-IMD)

“…pas melahirkan tidak tegaka’ kurasa kasiki anakku (alasan yang diberikan oleh informan tidak dijelaskan lebih lanjut)…”(Ny. Hst, 21 tahun-bukan IMD)

Komponen sikap yang lain seperti sikap terhadap keharusan menyusui dan sikap terhadap langkah-langkah inisiasi menyusui dini tidak memberikan informasi yang memperlihatkan peran yang jelas terhadap penerimaan praktek inisiasi menyusu dini.

Pengalaman menyusui berperan dalam meningkatkan kepercayaan diri ibu IMD untuk melakukan inisiasi menyusu dini, dan pengalaman melakukan inisiasi menyusu dini berperan untuk menguatkan keyakinan ibu IMD mengulangi inisiasi menyusu dini secara sukarela. Respon ini tidak terlihat pada ibu bukan IMD.

“…biasaji…waktu bidan kasi tau’ka langsungji…penasaranka juga mau liatki…” (Ny.UH, 30 tahun-IMD)

“…bagus betul pak, anakku kuat sekali netek…yah kalau nakasi’ki tuhan rejeki na ada ade’na, lebih baik dikasi begitu, apalagi ini pernahmi…”(Ny. Idh,27 tahun-IMD)

Persepsi tentang menyusui berperan terhadap perilaku menyusui secara umum tapi tidak berperan secara langsung terhadap inisiasi menyusu dini. Baik ibu IMD maupun ibu bukan IMD menganggap bahwa menyusui merupakan keharusan bagi ibu yang melahirkan dan mereka melakukannya sesuai apa yang mereka ketahui.

“…untuk apa kita melahirkan kalau tidak mauki susui anatta’…?”(Ny.Db, 25 tahun-bukan IMD)

“…itumi tugasta jd mama’ kasi makan ana’ta dengan air susu ta…”(Ny.UH,30 tahun-IMD)

Motivasi ibu untuk menyusui antara lain distimulasi oleh aspek sosial, ekonomi, keyakinan (agama) dan faktor kesehatan, tapi aspek-aspek ini tidak mempunyai keterkitan dengan penerimaan ibu terhadap praktek inisiasi menyusu dini. Khusus dikalangan ibu multipara, didapatkan informasi yang tidak dapat diberlakukan secara umum mengenai dorongan melakukan inisiasi menyusu dini berdasarkan keinginan mencoba sesuatu yang baru (novelty).

Perlu digaris bawahi bahwa keinginan informan untuk mencoba, bukan dalam konteks trial and error  karena tidak didasari gejala yang bersifat symptomatic. Keinginan mencoba kemungkinan terkait dengan rangsangan (stimulus) yang bersifat novelty. Sesuatu yang baru (novelty) sendiri adalah suatu stimulus baru yang akan lebih menarik perhatian seseorang dibanding yang telah diketahuinya lebih dahulu13.

Namun demikian, motif tersebut dapat diarahkan untuk meningkatkan motivasi dalam melakukan praktek IMD, terlebih jika praktek tersebut sukses dilakukan. Kesuksesan yang berawal dari keinginan mencoba dapat menjadi pengalaman perilaku (empirical behavior) yang mempertahankan praktek tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Ngatimin, bahwa jika tindakan trial and eror  dilakukan di tempat pelayanan kesehatan dan tindakan tersebut memberikan kesuksesan (kesembuhan), pada akhirnya akan menjadi empirical behavior (pengalaman perilaku). Bahkan ditambahkan bahwa trial and error dapat menjadi bagian dari pola hidup menuju sehat bagi masyarakat yang masih belum tersentuh sempurna penyuluhan kesehatan14.

Analisa  faktor eksternal

Dari empat faktor eksternal yang diamati, yakni fasilitas kesehatan, petugas penolong persalinan, keluarga dan orang terdekat serta kecenderungan perilaku di lingkungan sekitar, semuanya memperlihat peran yang berarti terhadap diterimanya praktek inisiasi menyusu dini.

Peran fasilitas kesehatan kesehatan dapat dilihat melalui informasi yang terungkap, bahwa pada unit pelayanan kesehatan yang menyerahkan sepenuhnya pilihan kepada pasien terkait keputusan untuk menyusui, tidak mendorong terlaksananya inisiasi menyusu dini.

“…apaje’ itu pak?…waktu melahirkanka di RS ‘X’ tidak tonji na suruhka bidan…” (Ny.Nrh, 25 tahun –bukan IMD)

Peran fasilitas pelayanan kesehatan dalam hal praktek menyusui terkait dengan komitmen pihak manajemen unit pelayanan untuk memberikan perhatian khusus terhadap perilaku tersebut. Komitmen ini sangat dipengaruhi oleh perhatian petugas pada unit pelayanan yang menjadi pilihan masyarakat. Terkait dengan pemilihan fasilitas pelayanan ditemukan sebuah fenomena yang menarik termasuk yang dilakukan oleh beberapa informan. Fenomena yang dimaksud adalah ‘perpindahan’ informan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ada diantara informan yang ketika melahirkan, memilih Rumah Sakit yang dalam pandangan mereka lebih ‘modern’ dengan pelayanan yang lebih baik, meskipun secara ekonomis jauh lebih mahal. Namun untuk pelayanan imunisasi dan pemeriksaan kesehatan sebelum dan sesudah melahirkan dilakukan di Puskesmas.

Informasi yang disampaikan mengungkapkan fakta, bahwa di tempat melahirkan tersebut petugas menyerahkan sepenuhnya pilihan kepada pasien apakah mau menyusui dini atau tidak, dan itu dianggap oleh pihak RS sebagai hak dari pasien yang harus di hormati. Namun pada gilirannya hal tersebut cukup menyulitkan petugas puskesmas untuk memberikan keyakinan tentang perilaku menyusui.

Hal ini juga memperlihatkan ketiadaan peran petugas untuk mendorong pasien melakukan inisiasi menyusu dini atau memberikan kolostrum kepada bayi yang baru lahir. Peran petugas lebih jelas terlihat pada informasi yang disampaikan oleh ibu yang bersedia melakukan praktek inisiasi menyusu dini.

“…saya sudah dikasi tau bidan puskesmas waktu periksaka’, bilang nanti kalo melahirkan kita mau coba program baru, tapi waktu itu belumpi kutau program apa maksudnya…”(Ny. UH, 30 tahun-IMD)

“…iye’ saya tidak pernah dikasi tau sebelumnya, nantipi lahir anakku terus itu bidan kasi naik ke perutku, dia bilang tidak usah takut ini tidak apa-apa…” (Ny. Rkm, 36 tahun-IMD)

Peran petugas juga terlihat dalam memanfaatkan persepsi masyarakat yang menganggap persalinan tidak terpisahkan dengan praktek menyusui, untuk mendorong pasien melakukan inisiasi menyusu dini.

Jelas terlihat dari informasi pelaku IMD bahwa sebenarnya kesediaan mereka melakukan IMD sangat ditentukan oleh kepercayaan mereka terhadap bidan. Peran bidan dalam menunjang keberhasilan praktek menyusui terutama inisiasi menyusu dini, sejalan dengan penelitian Daryati (2008) di Sanggau Kalimantan Barat, yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap bidan dengan keberhasilan melakukan inisiasi menyusu dini (IMD)15.

Peran bidan dalam praktek inisiasi menyusu dini juga diungkapkan oleh Februhartanty, dalam penelitiannya bahwa sekitar 80% bayi baru lahir ini menerima makanan/minuman prelakteal berdasarkan anjuran dari petugas kesehatan16. Kutipan hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa terlaksana atau tidaknya inisiasi menyusu dini, ikut dipengaruhi oleh peran petugas kesehatan, dalam hal ini dokter atau bidan.

Keluarga dan orang terdekat juga berperan untuk mendukung kesediaan ibu melakukan inisiasi menyusu dini. Anggota keluarga yang berperan adalah nenek dan suami, meskipun dalam hal ini peran suami lebih pasif.

“…nene’nya yang dikasi tau sama bidan waktu mauka melahirkan, bilang sebentar kita mau coba langsung kasi menyusui anaknya…”(Ny. Str, 34 tahun –IMD)

“…dia bawa’ka saja ke puskesmas, waktu ditanya sama bidan dia bilangji terserah mama aji…” (Ny. Ftm, 25 tahun-IMD)

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ‘orang lain’ yang berperan dalam membantu ibu memutuskan untuk melakukan inisiasi menyusu dini, tidak selalu anggota keluarga.

Peran suami lebih banyak memberikan kebebasan dan mendukung pilihan istri. Dukungan suami antara lain dapat terlihat pada sikapnya yang pengertian dan tidak membebani istrinya dengan pekerjaan rumah tangga saat tiba waktu menyusui. Terkait dengan praktek IMD, peran suami lebih pasif dan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada istrinya. Informasi tentang peran suami juga terungkap dalam penelitian yang dilakukan Februhartanty, bahwa kehadiran ayah saat persalinan adalah sehubungan dengan peranannya untuk melengkapi beberapa dokumen administrasi dan memberikan pernyataan kesediaan dilakukannya suatu tindakan tertentu pada sang istri bila diperlukan. Ayah tidak menyadari peran mereka yang lainnya yaitu mempengaruhi praktek menyusui segera setelah bayi dilahirkan.16

Strategi Penyampaian Informasi

Faktor eksternal lainnya adalah sumber dan cara penyampaian informasi terkait inisiasi menyusu dini. Dari wawancara mendalam didapatkan informasi bahwa sumber informasi utama bagi ibu dalam hal inisiasi menyusu dini adalah petugas kesehatan, yakni bidan yang membantunya sejak pemeriksaan kehamilan sampai melahirkan.

“…saya sudah dikasi tau bidan puskesmas waktu periksaka’, bilang nanti kalo melahirkan kita mau coba program baru, tapi waktu itu belumpi kutau program apa maksudnya…” (Ny. UH, 30 tahun-IMD)

“…nene’nya yang dikasi tau sama bidan waktu mauka melahirkan, bilang sebentar kita mau coba langsung kasi menyusui anaknya…”(Ny. Str, 34 tahun –IMD)

Informasi inisiani menyusu dini (IMD) dominan didapatkan dari bidan yang menangani pemeriksaan kehamilan dan persalinan, meskipun ada juga diantara informan yang mendapatkannya dari media. Yang menjadi masalah karena informasi tersebut tidak selamanya disampaikan bidan jauh sebelum praktek IMD dilakukan, bahkan terkadang nanti diberi tahu sesaat setelah melahirkan. Namun demikian yang paling dominan, adalah yang mendapatkan informasi saat pemeriksaan kehamilan. Seorang bidan puskesmas mengungkapkan bahwa pasien yang datang memeriksakan kehamilannya umumya diberi informasi mengenai ASI ekslusif maupun IMD, meskipun terkadang informasi itu diberikan pada umur kehamilan yang mendekati persalinan. Keterlambatan penyampaian informasi menyebabkan masih adanya ibu yang ragu mengambil keputusan untuk IMD. Disinilah peran pengetahuan dan sikap bidan diperlukan, seperti kesimpulan Daryati (2008) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap bidan dengan keberhasilan melakukan inisiasi menyusu dini (IMD)15.

Cara penyampaian informasi juga berperan menentukan kesediaan ibu melakukan inisiasi menyusu dini.

“ …biasanya ibu-ibu yang melahirkan acuh tak acuh kalau diberi tahu soal itu…tapi saya selalu kasi tau, kalau mauki’ tidak lama perdarahan yah kasi begituki’ kalau tidak mau yah…apa boleh buat…”(Bd. Nrh, 42 tahun)

Bidan menyiasati penyampaian informasi, meskipun menurut mereka terkadang harus melanggar prinsip persuasif. Bidan menempuh cara penyampaian dengan menjelaskan dan memberikan pehamanan tentang risiko yang bisa didapatkan ibu melahirkan tapi dapat dicegah jika melakukan inisiasi menyusu dini (IMD).

Topik yang paling sering menjadi isi penyampaiannya adalah risiko perdarahan. Bidan menggunakan informasi bahwa IMD dapat mempercepat berhentinya perdarahan pada ibu melahirkan. Secara ilmiah, cara yang ditempuh oleh bidan memiliki kesesuaian dengan konsep Disability Oriented Approach (DOA) yang dikemukakan oleh Ngatimin (2005), bahwa DOA adalah pendekatan promosi kesehatan inovatif, berbasis trias epidemiologi dan dikembangkan melalui proses komunikasi guna menyadarkan dan memotivasi masyarakat untuk hidup sehat melalui upaya pencegahan guna menghindari disability serta ancaman kematian14.

KESIMPULAN

Penelitian ini menyimpulkan bahwa baik faktor internal maupun faktor eksternal berperan terhadap penerimaan inisiasi menyusu dini. Faktor internal yang berperan adalah pengetahuan dan sikap mengenai kolostrum dan pengetahuan mengenai inisiasi menyusu dini (untuk mengulangi praktek IMD). Sedangkan Faktor eksternal adalah fasilitas kesehatan, petugas kesehatan, keluarga dan orang terdekat. Sumber informasi utama mengenai inisiasi menyusu dini bagi ibu sekaligus yang menjadi penentu diterima atau tidaknya praktek ini adalah bidan.

Peneliti merekomendasikan perlunya perencanaan yang matang dalam mempromosikan praktek inisiasi menyusu dini, termasuk didalamnya pelatihan bagi bidan. Selain itu penelitian ini perlu ditindak lanjuti melalui penelitian dengan skala yang lebih luas serta dengan metode yang lebih bervariasi untuk memberikan keyakinan terhadap hasil yang diperoleh, sehingga hasilnya lebih bermanfaat dan dapat diterapkan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Depkes RI, 2008. Paket Modul Kegiatan – Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Ekslusif 6 Bulan – Panduan Kegiatan Belajar Bersama Masyarakat, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
  2. Moehyi, Sjahmien, 2008. Bayi Sehat & Cerdas – Melalui Gizi dan Makanan Pilihan – Pedoman Asupan Gizi untuk Bayi dan Balita, Pustaka Mina, Jakarta
  3. Roesli, Utami, 2008. Inisiasi Menyusu Dini – Plus ASI Ekslusif, Pustaka Bunda, Jakarta
  4. Edmon, Karen et al, 2006. Delayed Breastfeeding Initiation Increases Risk of Neonatal Mortality, Pediatrics 2006;117: e380-e386
  5. Bilgiç, Dilèk et al, 2004. Does Early Breastfeeding Decrease the Duration of the Third-Stage of Labor and Enhance the Infant-Mother Interaction? Artemis, Vol. 5(3), Turkey
  6. Loong, MC et al, 1996. ‘Breast Feeding’ – Early Initiation and Success, Department of Obstetrics and Gynaecology Pok Oi Hospital, Hongkong
  7. Clemens, John et al, 1999. Early Initiation of Breastfeeding and the Risk of Infant Diarrhea in Rural Egypt, Electronic article, PEDIATRICS Vol. 104 No. 1 July 1999
  8. BPS Kota Parepare, 2007. Parepare Dalam Angka, Biro Pusat Statistik, Kantor Kota Parepare, Parepare
  9. Ali, Muhammad, 1993. Strategi Penelitian Pendidikan, Angkasa, Bandung
  10. Moleong, Lexy J, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung.
  11. Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet, 1997. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, Prosedur, Teknik dan Teori Grounded, Penyadur : Djunaidi Ghony, Bina Ilmu, Surabaya
  12. Tawiah, Charlotte et al, 2006. Early Initiation Of Breastfeeding In Ghana: Barriers and Facilitators, Kintampo Health Research Centre Health Research Unit, Ghana Health Service Brong-Ahafo region. P.O. Box 200, Kintampo Ghana
  13. Notoatmodjo, Soekidjo (Penyunting), 2005. Promosi Kesehatan -Teori dan Aplikasinya, PT. Rineka Cipta, Jakarta
  14. Ngatimin, H.M.Rusli, 2005. DOA – Disability Oriented Approach – Promosi Kesehatan Untuk Hidup Sehat, Yayasan PK-3, Makassar.
  15. Daryati, 2008. Hubungan Karakteristik, Pengetahuan Dan Sikap Bidan Dengan Praktik Bidan Dalam Inisiasi Menyusui Dini Pada Ibu Bersalin Di Sanggau Kalimantan Barat, www. pusatdatadanskripsi.com

16.  Februhartanty, Judhiastuty, 2008. Peran Strategis Ayah Dalam  Optimalisasi Praktek Pemberian ASI : Sebuah Studi di Daerah Urban Jakarta (di download dari http: // http://www.gizi.net/ makalah/ download/ Summary-Eng-Indo-Yudhi.pdf. pada 14 Pebruari 2009), Ringkasan Disertasi Universitas Indonesia, Jakarta.


6 responses to “PERAN FAKTOR PERILAKU DALAM PENERAPAN INISIASI MENYUSU DINI DI KOTA PAREPARE (Role Of Behavioral Factors In Early Breastfeeding Initiation In Parepare City)

  1. serbamiliter mengatakan:

    saya juga baru belajar nih ..
    wah2 artikelnya menarik banget ..
    jarang2 bisa liat blog yang fokus sama masalah kesehatan ..

    sukses ya ngeblognya ..
    kali aja gara2 ngeblog bisa jadi Menteri Kesehatan😀

    salam sehat ..

  2. elviz06 mengatakan:

    IMD berdasarkan beberap hasil penelitian memang sngat banyak menfaatnya tapi pada kenyataannya baik ibu maupun bidan masih belum familiar dalam penerapannya dan sepertinya usaha untuk memfokuskan IMD sebagai salah satu bentuk pertolongan atau pelayanan pada ibu hamil masih berlaku hanya bagi orang tertentu belum dikenakan tindkan tegas atau sejenisnya agar seluruh lapisan masyarakat bisa merasakan faedah IMD itu sendiri dengan baik… Terus lah meneliti dengan baik.. penelitian Bapak akan membawa manfaat buat kita..good luck

  3. indah mengatakan:

    maaf sebelumnya..
    saya mau bertanya – siapa peneliti dari penelitian tersebut?
    terimakasih,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: