DISKUSI KESEHATAN MASYARAKAT

Memaksimalkan segala upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

Peran Manajemen Dalam Pengembangan Program Promkes

PENDAHULUAN

Kesehatan ibu dan anak merupakan indikator penting dalam penyelenggaraan pembangunan di bidang kesehatan. Dalam indikator Indonesia Sehat 2010 ditegaskan bahwa indikator derajat kesehatan masyarakat meliputi ukuran-ukuran kesakitan, kematian serta status gizi yang berkaitan langsung dengan ibu dan anak sebagai bagian dari masyarakat yang tergolong kelompok rentan. Sebagai indikator terpenting dari derajat kesehatan masyarakat, kesehatan ibu dan anak memerlukan penanganan yang sangat serius, baik dari segi teknis maupun manajemen.

Salah satu upaya untuk mencapai derajat kesehatan ibu dan anak (KIA) yang optimal dilakukan melalui kegiatan promosi kesehatan. Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Dengan demikian, promosi kesehatan terkait dengan kesehatan ibu dan anak (KIA) tak lain ditujukan untuk membantu masyarakat baik kaum ibu maupun kelompok masyarakat lain yang berpengaruh langsung, untuk mengarahkan mereka pada perilaku dan gaya hidup yang mendukung kesehatan dirinya maupun kesehatan anak-anaknya.

Pentingnya upaya promosi kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan ibu dan anak secara optimal berdasar pada kenyataan bahwa masalah-masalah kesehatan ibu dan anak yang muncul, umumnya diakibatkan oleh kebiasaan, gaya hidup maupun perilaku ibu, baik semasa prakonsepsi, kehamilan, kelahiran maupun semasa pengasuhan bayi dan balita. Mulai dari keyakinan ibu terkait dengan kehamilan, kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat, konsumsi makanan yang rendah gizi, kebiasaan merokok, keengganan untuk memeriksakan diri dan atau kehamilannya, serta dukungan dari pihak keluarga (terutama suami) yang kurang dalam hal menjaga kesehatan kehamilannya. Semua hal tersebut menjadi sasaran dari upaya promosi kesehatan yang dilakukan.

Pada tingkatan yang lebih tinggi, promosi kesehatan tidak hanya ditujukan bagi peningkatan keterampilan individual dalam memelihara kesehatannya, melainkan mencakup konteks yang lebih luas dalam hal mengubah masyarakat, lingkungan, dan kondisi ekonomi, agar dampak negatif terhadap kesehatan individu dan masyarakat dapat dikurangi. Agar promosi kesehatan dapat memberikan hasil maksimal serta dapat dilakukan secara berkelanjutan, sebaiknya dilakukan melalui tahapan-tahapan yang bersifat rasional dan ilmiah, dengan menggunakan kaidah-kaidah manajemen.

LANDASAN TEORI

Pembahasan lebih lanjut mengenai peran manajemen dalam program promosi kesehatan ibu dan anak (KIA) berlandaskan pada teori-teori mengenai kedua hal tersebut. Pengetahuan berkenaan dengan teori-teori manajemen dan teori-teori yang berkenaan dengan perubahan perilaku sebagai inti dari promosi kesehatan, bertujuan untuk memandu promotor kesehatan dalam memilih dan menentukan metode yang tepat dalam melaksanakan programnya.

a.Teori Manajemen

Salah satu teori manajemen yang paling banyak digunakan dalam dunia kesehatan beberapa tahun terakhir adalah teori yang dikemukakan oleh Henry Fayol (1841-1925) dan digolongkan ke dalam classical organizational theory (teori organisasi klasik). Menurut Fayol, manajemen mempunyai 5 (lima) fungsi antara lain planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), commanding (memerintah), coordinating (pengkoordinasian), controlling (pengawasan).
Kelima fungsi manajemen yang dikemukakan oleh Fayol merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian sebuah organisasi. Jika diadaptasi kedalam kegiatan, maka rangkaian fungsi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pencapaian hasil yang optimal dari kegiatan.

Selain teori diatas, sebenarnya masih banyak teori manajemen yang sering digunakan untuk membantu proses administrasi dalam melaksanakan kegiatan, seperti teori POAC dari Terry, POSDCORBE dari Gulick maupun teori kebutuhan dari Maslow. Namun demikian untuk pembahasan ini kita menganggap teori Henry Fayol dapat mewakili teori-teori tersebut, dengan menambahkan satu fungsi lagi yakni evaluation (evaluasi).

b.Teori Perubahan Perilaku

Inti dari kegiatan promosi kesehatan adalah perubahan perilaku, karena itu untuk dapat melakukan kegiatan promosi yang optimal, perlu dipahami teori-teori perubahan perilaku yang telah banyak dirintis oleh ahli-ahli perilaku. Beberapa teori perubahan perilaku tersebut, antara lain Teori Belajar (learning theory), Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model), Teori aksi beralasan dan Teori Perilaku Terencana (Theory of Reasoned Action and Theory of Planned Behavior) dan masih banyak lagi teori yang lain.

Dalam pembahasan ini teori yang dipilih untuk mendukung pelaksanaan program adalah teori belajar (learning theory). Teori ini menekankan bahwa mempelajari sebuah pola perilaku baru yang kompleks dapat dilakukan dengan memodifikasi bagian-bagian perilaku-perilaku yang menyusun perilaku tersebut secara keseluruhan. Prinsip modifikasi perilaku adalah bahwa sebuah perilaku baru yang kompleks dapat dipelajari dengan menguraikannya kedalam perilaku-perilaku yang lebih kecil.

ARGUMENTASI DAN PEMBAHASAN

“Health promotion is the science and art of helping people change their lifestyle to move toward a state of optimal health. Optimal health is defined as a balance of physical, emotional, social, spiritual, and intellectual health. Lifestyle change can be facilitated through a combination of efforts to enhance awareness, change behavior and create environments that support good health practices. Of the three, supportive environments will probably have the greatest impact in producing lasting change”. (American Journal of Health Promotion, 1989,3,3,5)

Dari definisi tersebut diatas dapat ditarik beberapa kata kunci yang dapat membantu pemahaman mengenai peran manajemen dalam program promosi kesehatan, khususnya promosi kesehatan ibu dan anak. Pertama, promosi kesehatan adalah ilmu dan seni. Kedua, promosi kesehatan bertujuan membantu orang mengubah gaya hidup. Ketiga, promosi kesehatan bertujuan membawa orang menuju status kesehatan yang optimal.

Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui upaya untuk menggugah kesadaran, mengubah perilaku serta menciptakan lingkungan yang mendukung perilaku sehat. Upaya fasilitasi tersebut dapat berlangsung secara efektif jika didukung oleh metode komunikasi yang tepat. Komunikasi merupakan kegiatan pokok dalam program promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan.

Proses komunikasi, adalah proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan berupa isi ajaran yang ada dalam kurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan ataupun tertulis) maupun simbol non-verbal atau visual. Proses penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi itu disebut encoding. Sedangkan proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut disebut decoding. Decoding merupakan proses pengolahan informasi yang meliputi sensasi, persepsi, memori dan berpikir. Ibu dan masyarakat sekelilingnya sebagai sasaran program kesehatan ibu dan anak (KIA), sekaligus merupakan penerima pesan dalam proses komunikasi yang kita lakukan.

Dengan melakukan melakukan komunikasi yang efektif diharapkan terjadi kesadaran pada diri penerima pesan yang untuk selanjutnya menjadi awal dari perubahan perilaku. Perubahan perilaku dapat terjadi jika kita melakukan komunikasi secara tepat, dan untuk melakukannya kita harus memahami bagaimana timbulnya perilaku tersebut serta kemungkinannya untuk berubah.
Ketepatan dalam melakukan komunikasi juga ditentukan oleh kepiawaian promotor kesehatan untuk menerapkan teori-teori perubahan perilaku. Pengetahuan tentang teori perubahan perilaku akan memandu seorang promotor kesehatan memilih dan menentukan apa yang akan dilaksanakan, bagaimana melaksanakannya serta siapa sasarannya. Selain itu teori perubahan perilaku akan membantu promotor kesehatan untuk menentukan perilaku baru yang akan diajarkan serta perilaku sasaran yang akan diitervensi terlebih dahulu.

Rumitnya pelaksanaan kegiatan ini akan terbantu jika kita menggunakan dukungan manajemen yang baik. Secara umum pelaksanaan program harus dikelola sedemikian rupa, sehingga langkah-langkah pelaksanaannya lebih teratur dan lebih mudah diukur keberhasilannya. Tahapan-tahapan manajemen yang lazimnya digunakan adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi (POACE).

Dalam program promosi kesehatan ibu dan anak (KIA) penerapan fungsi-fungsi manajemen dapat dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pencapaian tujuan atau perilaku baru yang diharapkan. Pada tahap perencanaan ditentukan perilaku apa yang diinginkan oleh promotor, bagaimana melakukannya, dimana akan dilaksanakan serta berapa besar biaya yang diperlukan. Pada tahap pengorganisasian ditentukan siapa-siapa yang akan terlibat dan sejauh mana keterlibatan mereka. Pada tahap pelaksanaan dan pengawasan, promotor kesehatan akan memberikan penilaian sementara terhadap proses yang berjalan dan segera memperbaikinya jika dianggap ada kesalahan yang dapat mengganggu optimalisasi pencapaian tujuan. Sedangkan pada tahap evaluasi promotor kesehatan serta pihak lain yang terlibat secara langsung, melakukan pengukuran seberapa besar tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai.

HAMBATAN-HAMBATAN

Masalah yang paling lazim terjadi ketika dilakukan penerapan manajemen dalam pengembangan program kesehatan ibu dan anak (KIA) adalah kemampuan dari para promotor yang terlibat untuk menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara konsisten ke dalam keseluruhan proses. Selain itu kemampuan sasaran yang rendah dalam menangkap pesan yang dikirimkan pada proses komunikasi akan menghambat pelaksanaan program dari tahap yang satu ke tahap selanjutnya.

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Untuk mengantisipasi dua hambatan utama tersebut dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :

  • Galang komitmen diantara pelaksana program untuk konsisten menerapkan fungsi-fungsi manajemen namun tetap tetap menjaga fleksibilitasnya.
  • Pilih metode dan saluran komunikasi yang tepat dan dianggap dapat menjangkau sasaran secara efektif.

Bahan Bacaan :

1.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

2.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

3.Siswanto, Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol.09 Hal. 168-176 Nomor 04 Desember 2006.

4.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

5.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

1 Komentar »

peranan analisis komunitas dalam penetapan masalah dan tujuan promkes

PENDAHULUAN

Promosi Kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Kesehatan optimal didefinisikan sebagai keseimbangan dari kesehatan fisik, emosional, sosial, spiritual dan intelektual. Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui kombinasi upaya untuk meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku dan menciptakan lingkungan yang mendukung praktek kesehatan yang baik. Dari ketiga hal tersebut, dukungan lingkungan akan memberikan kemungkinan dampak terbesar dalam menghasilkan perubahan pada akhirnya. ( Terjemahan : American Journal of Health Promotion, 1989, 3, 3, 5)

Perubahan gaya hidup yang dimaksud dalam definisi tersebut di atas, merupakan produk simultan dari perubahan perilaku yang didasari oleh peningkatan kesadaran dan pembentukan lingkungan yang kondusif bagi perilaku sehat. Semua upaya tersebut memerlukan bantuan promotor kesehatan yang memulai kegiatannya dengan melakukan analisis terhadap komunitas. Dengan melakukan analisis komunitas, promotor kesehatan dapat menentukan bentuk perilaku baru yang diharapkan akan diadopsi oleh masyarakat. Tingkat keberhasilan masyarakat dalam mengadopsi perilaku baru yang ditawarkan bergantung pada metode komunikasi yang digunakan, dan metode komunikasi tersebut dapat dipilih secara tepat, juga atas hasil analisis komunitas. Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa analisis komunitas merupakan kegiatan yang menjadi sumber berbagai informasi yang diperlukan dalam menentukan langkah kegiatan selanjutnya.

Sebuah program promosi kesehatan akan memberikan hasil yang optimal jika dilaksanakan sesuai kebutuhan masyarakat. Pernyataan masyarakat akan kebutuhan-kebutuhannya tidak dapat diharapkan dalam bentuk verbal, karena seringkali menjadi rancu akibat tipisnya perbedaan antara kebutuhan tersebut dengan ‘keinginan’ masyarakat. Karena itu kebutuhan masyarakat harus dijajaki melalui karakteristik-karakteristik yang diperlihatkan oleh keadaan masyarakat baik yang bersifat statis maupun yang dinamis. Karakteristik statis dari masyarakat, dalam konteks kebutuhan untuk promosi kesehatan, dapat berupa pengelompokan atas dasar batas spasial dan batas politik administratif, sedangkan karakteristik dinamis, dalam konteks yang sama, dapat berupa agregasi-agregasi sosial yang umumnya didominasi oleh kepentingan-kepentingan.

KONSEP ANALISIS KOMUNITAS

Pada tingkatan yang lebih tinggi, promosi kesehatan tidak hanya ditujukan bagi peningkatan keterampilan individual dalam memelihara kesehatannya, melainkan mencakup konteks yang lebih luas dalam hal mengubah masyarakat, lingkungan, dan kondisi ekonomi, agar dampak negatif terhadap kesehatan individu dan masyarakat dapat dikurangi. Dalam pemahaman seperti itu maka untuk mengetahui dan memahami secara mendalam tentang apa yang membuat masyarakat berfungsi atau tidak berfungsi secara efektif dalam memperbaiki kesehatannya, perlu dilakukan suatu analisis komprehensif terhadap komunitas. Dasar dari analisis komunitas adalah pengetahuan tentang definisi dan pengenalan terhadap batas-batas fungsional suatu masyarakat.

Secara struktural, masyarakat adalah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang terorganisir oleh batas spasial maupun politik. Pembatasan-pembatasan ini juga ikut diwarnai oleh kebiasaan-kebiasaan yang dianut secara dominan oleh kelompok masyarakat yang hidup pada wilayah geografi tertentu dan pada gilirannya membawa konsekuensi kekhasan yang berbeda dengan kelompok lainnya. Pada sisi lain, sebuah komunitas juga diwarnai oleh fungsi-fungsi agregasi non-geografis seperti pekerjaan, agama, kepentingan khusus atau perwujudan kebutuhan bersama, atas dukungan sumberdaya yang juga dimiliki secara bersama-sama.

Dalam merencanakan program promosi kesehatan, unsur terpenting adalah identifikasi masalah dan penetapan tujuan. Tujuan sebuah program dapat ditetapkan jika promotor kesehatan telah mampu mengenali masalah-masalah yang ada dalam masyarakat serta mengidentifikasinya ke dalam masalah kesehatan. Masalah-masalah tersebut dapat dikenali dan diidentifikasi jika analisis komunitas dilakukan secara komprehensif sesuai dengan kaidah-kaidah yang lazim dilakukan.

Dengan menelaah uraian-uraian di atas, dapat terlihat bagaimana analisis komunitas berperan dalam mengidentifikasi masalah serta menentukan tujuan. Analisis komunitas dapat berarti menelaah berbagai aspek baik berupa unsur-unsur internal yang melekat secara khas dalam kehidupan masyarakat, maupun unsur-unsur eksternal yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan kehidupan masyarakat secara umum.

Beberapa aspek yang menjadi sasaran dalam melakukan analisis komunitas, antara lain identifikasi anggota masyarakat, batas-batas geografis, kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan, aspirasi-aspirasi, motivasi-motivasi para anggotanya dan atau efektifitas sistem pelayanan kesehatan yang tersedia.

Secara lebih rinci tahapan-tahapan dalam melakukan analisis komunitas adalah mengumpulkan informasi, mendefinisikan batas-batas, mendefinisikan latar belakang, menganalisis status kesehatan masyarakat termasuk analisis terhadap sistem perawatan kesehatan dan potensi keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.

Pada tahap selanjutnya dilakukan diagnosis masyarakat untuk menentukan kondisi kesehatan masyarakat, menentukan pola pelayanan kesehatan di masyarakat, menentukan hubungan antara status kesehatan dan pelayanan/perawatan kesehatan serta mengidentifikasi dan menentukan determinan-determinan dari problem utama yang berkaitan dengan kebutuhan dan sumberdaya kesehatan dalam masyarakat bersangkutan.

ARGUMENTASI PENDUKUNG

Titik berat dari pembahasan ini adalah bagaimana melihat peranan analisis komunitas terhadap proses identifikasi masalah serta penentuan tujuan dari program promosi kesehatan. Untuk lebih memudahkan dalam memberikan argumentasi pendukung terhadap uraian sebelumnya, kita mengambil contoh Program Promosi Kesehatan di Kota Parepare.

Untuk dapat mengidentifikasi masalah kesehatan yang akan dipromosikan di Kota Parepare, maka hal yang paling awal harus dilakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui telaah terhadap data-data pelayanan kesehatan yang telah ada. Proses pencarian informasi dari masyarakat yang kemudian dikomparasi dengan data-data pelayanan kesehatan memperlihatkan adanya ‘gap’ antara pertolongan persalinan tenaga kesehatan (PN) yang prosentasenya cukup tinggi 94,65% dengan kenyataan masih terjadinya kematian ibu melahirkan (MMR) 118/100.000 KH dan kematian neonatal (IMR) 2/1000 KH dan balita (U5MR) 0,2/1000 KH. Data ini menggambarkan adanya masalah dalam hal kesehatan ibu dan anak. Sekalipun secara absolut angka-angka kematian ini cukup rendah dibanding angka nasional, tapi dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang relatif kecil serta sarana-prasarana pelayanan kesehatan yang memadai, seharusnya tidak ada lagi kematian ibu dan bayi.

Dengan melakukan tela’ah terhadap berbagai aspek dalam kerangka analisis komunitas, ditemukan bahwa terdapat perilaku yang kurang mendukung terhadap pemeliharaan kesehatan ibu baik semasa kehamilan maupun menyusui serta rendahnya status gizi ibu, bayi dan balita. Perilaku tidak kondusif yang ditemukan adalah rendahnya cakupan K1 dan K4. Dari sebanyak 2.490 ibu hamil jumlah yang melakukan kunjungan K-4 pada antenatal care dan mendapatkan pelayanan ANC yang lengkap hanya 1.908. Angka ini belum mencapai target 2008 yang dicanangkan sebesar 88%.

Data status gizi bayi dan balita tahun 2004 menunjukkan status kurang gizi sebanyak 61 orang (1,37%). Jumlah anak yang BGM sebanyak 74 anak (1,67 %) dan jumlah anak yang BGT sebanyak 73 anak (1,10 %). Pada tahun 2005 jumlah BGM meningkat menjadi 102 dan BGT menjadi 210 anak. Anak balita KEP nyata sebanyak 44 anak (0,10 %) dari 4.438 jumlah balita yang ditimbang di posyandu. Untuk tahun 2006, balita dengan status gizi buruk sebanyak 10.9/1000 balita, sedangkan gizi kurang 33.6 /1000 balita.

Dari hasil pengumpulan informasi serta penelaahan data pelayanan kesehatan dapat terlihat masalah yang memerlukan penanganan segera, dan dengan sendirinya dapat ditentukan tujuan yang ingin dicapai dalam program promosi kesehatan. Sangat sulit jika secara tiba-tiba tujuan ditetapkan tanpa melakukan analisis. Jika identifikasi tidak tepat mungkin saja yang dianggap masalah adalah kesehatan ibu dan anak secara umum, dan jika demikian maka sudah pasti penetapan tujuan program melenceng dari sasaran. Misalnya, karena masalah yang terlihat adalah kesehatan ibu dan anak, maka diidentifikasi masalah yang akan diitervensi adalah persalinan tenaga kesehatan (PN), kekeliruan ini akan berlanjut pada penentuan tujuan program karena sasaran juga telah meleset. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa analisis komunitas dapat membantu promotor kesehatan untuk mempertajam identifikasi masalah serta penetapan tujuan.

KELEMAHAN-KELEMAHAN

Melakukan identifikasi masalah dan menetapkan tujuan dengan bantuan analisis komunitas, tentunya tetap mempunyai kelemahan disamping kelebihan-kelebihan. Kelemahan yang paling mudah terbaca terletak pada kerumitan dalam melakukan analisis terhadap berbagai aspek komunitas. Kerumitan ini menuntut kejelian dan kehandalan kemampuan dari seorang perencana program (promotor kesehatan). Banyaknya aspek yang harus dianalisis bisa saja mengundang kekeliruan dalam memahami masalah yang harus diidentifikasi.

SOLUSI MENGATASI HAMBATAN

Kelemahan di atas merupakan hambatan yang akan mengganggu proses perencanaan program promosi, karena itu harus diatasi dengan melakukan fokus sejak awal terhadap aspek-aspek tertentu. Obyek analisis harus dilokalisir sedemikian rupa sehingga identifikasi masalah dapat dilakukan secara lebih tajam. Sedangkan dari sisi promotor kesehatan, harus ‘berlatih’ untuk melakukan analisis yang cermat dalam melakukan identifikasi serta piawai dalam menetapkan tujuan yang akan dicapai.

Bahan Bacaan :

1.Thaha, Ridwan M. Bahan Kuliah Manajemen Program Promosi, Program Pascasarjana Promkes Univ. Hasanuddin Makassar. 2008

2.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

3.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

4.Siswanto, Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol.09 Hal. 168-176 Nomor 04 Desember 2006.

5.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

6.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

Tinggalkan komentar »

penetapan output program promkes

PENDAHULUAN

Kesehatan ibu dan anak merupakan indikator penting dalam penyelenggaraan pembangunan di bidang kesehatan. Dalam indikator Indonesia Sehat 2010 ditegaskan bahwa indikator derajat kesehatan masyarakat meliputi ukuran-ukuran kesakitan, kematian serta status gizi yang berkaitan langsung dengan ibu dan anak sebagai bagian dari masyarakat yang tergolong kelompok rentan. Sebagai indikator terpenting dari derajat kesehatan masyarakat, kesehatan ibu dan anak memerlukan penanganan yang sangat serius, baik dari segi teknis maupun manajemen.

Salah satu upaya untuk mencapai derajat kesehatan ibu dan anak (KIA) yang optimal dilakukan melalui kegiatan promosi kesehatan. Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Dengan demikian, promosi kesehatan terkait dengan kesehatan ibu dan anak (KIA) tak lain ditujukan untuk membantu masyarakat baik kaum ibu maupun kelompok masyarakat lain yang berpengaruh langsung, untuk mengarahkan mereka pada perilaku dan gaya hidup yang mendukung kesehatan dirinya maupun kesehatan anak-anaknya.

Promosi Kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Kesehatan optimal didefinisikan sebagai keseimbangan dari kesehatan fisik, emosional, sosial, spiritual dan intelektual. Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui kombinasi upaya untuk meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku dan menciptakan lingkungan yang mendukung praktek kesehatan yang baik. Dari ketiga hal tersebut, dukungan lingkungan akan memberikan kemungkinan dampak terbesar dalam menghasilkan perubahan pada akhirnya. ( Terjemahan : American Journal of Health Promotion, 1989,3,3,5)

Perubahan gaya hidup yang dimaksud dalam definisi tersebut di atas, merupakan produk simultan dari perubahan perilaku yang didasari oleh peningkatan kesadaran dan pembentukan lingkungan yang kondusif bagi perilaku sehat. Semua upaya tersebut memerlukan bantuan promotor kesehatan yang memulai kegiatannya dengan melakukan analisis terhadap komunitas. Dengan melakukan analisis komunitas, promotor kesehatan dapat menentukan bentuk perilaku baru yang diharapkan akan diadopsi oleh masyarakat. Tingkat keberhasilan masyarakat dalam mengadopsi perilaku baru yang ditawarkan bergantung pada metode komunikasi yang digunakan, dan metode komunikasi tersebut dapat dipilih secara tepat, juga atas hasil analisis komunitas. Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa analisis komunitas merupakan kegiatan yang menjadi sumber berbagai informasi yang diperlukan dalam menentukan langkah kegiatan selanjutnya.

TUJUAN, SASARAN DAN OUTPUT

Setelah analisis dan diagnosis masalah dilakukan, hasilnya kemudian dijadikan dasar dalam menentukan tujuan, sasaran serta output yang diharapkan.

Tujuan

Program ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan lengkap ibu hamil pada sarana pelayanan kesehatan.

Sasaran

Sasaran program adalah ibu hamil, petugas kesehatan dan tokoh kunci yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap keputusan ibu hamil untuk memeriksakan diri.

Output

Output yang diharapkan adalah menurunnya atau tidak terjadinya kematian ibu hamil, ibu melahirkan, bayi dan balita di Kota Parepare.

ARGUMENTASI

Output yang diharapkan diyakini dapat dicapai, disamping karena sasaran yang akan menjadi obyek intervensi sudah jelas, sarana dan prasarana yang dapat mendukung pelaksanaan program sudah sangat memadai. Pencapaian tujuan untuk menghasilkan output, bergantung pada kemampuan petugas kesehatan untuk memanfaatkan peluang yang tersedia. Jika promotor kesehatan mampu memanfaatkan segala sumberdaya yang ada maka sasaran akan mudah didekati, tujuan dapat dicapai dan pada akhirnya ouput yang diharapkan akan terjadi.

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG

Faktor-faktor yang mendukung besarnya peluang untuk menghasilkan output yang diharapkan, antara lain karena faktor-faktor determinan lainnya tidak terlalu membutuhkan intervensi yang terlalu besar, sehingga promotor kesehatan dapat berkonsentrasi untuk memusatkan perhatian pada masalah utama.

Bahan Bacaan :

1.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

2.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

3.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

4.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

5.Green, Lawrence & Kreuter, Marshall W, Health Promotion Planning, An Educational and Environtmental Approach, Second Edition, Mayfield Publishing Company. 1991

Tinggalkan komentar »

penentuan topik program promkes

PENDAHULUAN

Promosi kesehatan pada hakekatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut maka masyarakat, individu atau kelompok dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku kesehatan dari sasaran. Dewasa ini, sejalan dengan perkembangan dan semakin kompleksnya masalah kesehatan, maka promosi kesehatan tidak hanya sekedar komunikasi dalam arti pertukaran informasi saja. Promosi kesehatan telah menjadi suatu proses yang melibatkan aktifitas dan perubahan berbagai unsur dalam masyarakat menuju status kesehatan yang optimal.

Perencanaan promosi kesehatan adalah suatu proses diagnosis penyebab masalah, penetapan prioritas masalah dan alokasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan. Setelah melakukan analisis komunitas yang dilanjutkan dengan diagnosa komunitas, akan teridentifikasi masalah-masalah yang terjadi di dalam masyarakat. Sesaat sebelum menetapkan tujuan program, terlebih dahulu dilakukan penentuan fokus program. Sebagaimana halnya dengan tahapan lain dalam perencanaan program promosi, penentuan fokus program bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain harus didahului oleh analisa yang tajam serta kejelian dalam melakukan diagnosa, penentuan fokus program juga tergantung pada beberapa aspek seperti ketersediaan sumber daya, potensi hambatan serta potensi keberhasilannya.

Fokus program adalah proses penentuan titik sasaran yang akan diintervensi. Dalam proses ini diperlukan kecermatan dan penggunaan metode yang tepat untuk mengeliminasi kemungkinan-kemungkinan masalah lainnya yang dapat menjadi fokus program. Selain itu dilakukan perhitungan-perhitungan matematis terhadap ketersediaan sumber daya manusia, pembiayaan serta alokasi waktu yang harus disediakan. Juga harus dihitung kemungkinan besarnya dampak yang akan ditimbulkan jika perilaku baru yang kita tawarkan diadopsi oleh sasaran.

PENENTUAN FOKUS PROGRAM

Secara operasional, memilih fokus program berarti memilih sasaran kegiatan dari sekian banyak kemungkinan kegiatan yang dapat dilakukan. Pada tahapan ini pengetahuan, keterampilan serta kematangan dari seorang promotor kesehatan memerlukan pembuktian. Hal ini disebabkan karena kekeliruan dalam menentukan fokus program akan memberikan konsekuensi secara prospektif maupun retrospektif. Yang dimaksud konsekuensi prospektif adalah terjadinya kerugian material dan non-material akibat pelaksanaan program yang tidak tepat, dengan kata lain fokus program yang dipilih bukanlah program yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan. Sedangkan konsekuensi retrospektif adalah kerugian waktu dan sedikit kerugian materi akibat kesalahan menerjemahkan hasil analisis dan diagnosa masyarakat sebelumnya, padahal kunci keberhasilan pelaksanaan program promosi salah satunya adalah analisis dan diagnosis masyarakat.

Menentukan fokus program dalam perspektif promosi kesehatan sebagai suatu proses, harus melibatkan berbagai unsur yang mempunyai keterkaitan langsung dengan kegiatan yang direncanakan. Perencana harus terdiri masyarakat, profesional kesehatan, promotor kesehatan serta stake holder yang berperan sebagai penentu kebijakan. Kelompok ini harus bekerja bersama-sama dalam proses perencanaan promosi kesehatan, sehingga dihasilkan program yang sesuai, efektif dalam biaya dan berkesinambungan dalam pelaksanaan. Pelibatan orang-orang terkait akan menciptakan rasa memiliki sehingga menimbulkan rasa tanggung jawab dan komitmen.
Penentuan fokus program tidak hanya melibatkan orang, tapi juga melibatkan metode, teknik dan strategi.

Berbagai ahli telah memperkenalkan teori-teori dan model-model yang dapat digunakan untuk membantu seorang perencana mengambil keputusan dalam penentuan fokus.

Contoh kasus yang dipilih adalah masalah kesehatan yang terjadi di Kota Parepare. Proses penentuan fokus kegiatan mengikuti kaidah-kaidah analisis komunitas yang diakhiri dengan diagnosis komunitas. Hasil analisis yang didapatkan diterjemahkan secara spesifik untuk menemukan isu-isu utama dalam masyarakat. Isu-isu utama kemudian diverifikasi kepada stakeholder dan key informan yang bersifat independen. Pada contoh kasus yang diambil, tidak lagi dilakukan verifikasi lanjutan dalam bentuk ‘forum khusus’ karena hampir tidak ditemukan perbedaan berarti antara informasi kelompok target dengan informan kunci. Uraian masalah yang menjadi bahan analisis dapat dikemukakan secara ringkas sebagai berikut ini.


Derajat kesehatan masyarakat berhubungan erat dengan kondisi pembangunan nasional khususnya pembangunan sosial ekonomi. Namun diharapkan ada perhatian khusus tentang penduduk yang rentan seperti ibu, anak, usia produktif dan lansia. Apalagi kondisi kesehatan di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Keprihatinan ini ditunjukkan oleh masih tingginya angka kematian ibu yaitu 390 dari 100.000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi tiga sampai enam kali angka kematian ibu di negara-negara ASEAN. Sementara angka kematian bayi adalah 41 dari 1000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi dari Singapura 4 dari 1000 kelahiran hidup dan Malaysia 12 dari 1000 kelahiran hidup.

Sebagaimana halnya dengan sebagian besar daerah lain di Indonesia, di Kota Parepare kesehatan ibu dan anak masih menjadi fokus perhatian. Sekalipun angka kasusnya secara absolut kelihatan kecil, tapi dengan karakteristik daerah perkotaan yang dimiliki, luas wilayah yang tidak terlalu besar serta kepadatan komunitas yang tidak terlalu tinggi seharusnya masalah ini lebih mudah diatasi. Derajat kesehatan masyarakat berhubungan erat dengan kondisi pembangunan nasional khususnya pembangunan sosial ekonomi. Namun diharapkan ada perhatian khusus tentang penduduk yang rentan seperti ibu, anak, usia produktif dan lansia. Apalagi kondisi kesehatan di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Keprihatinan ini ditunjukkan oleh masih tingginya angka kematian ibu yaitu 390 dari 100.000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi tiga sampai enam kali angka kematian ibu di negara-negara ASEAN. Sementara angka kematian bayi adalah 41 dari 1000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi dari Singapura 4 dari 1000 kelahiran hidup dan Malaysia 12 dari 1000 kelahiran hidup.
Luas wilayah Kota Parepare tercatat 99,33 Km2, meliputi 3 (tiga) kecamatan dan 21 kelurahan yaitu Kecamatan Bacukiki (9 Kelurahan), Kecamatan Soreang (7 Kelurahan) dan Kecamatan Ujung (5 Kelurahan). Diantara ketiga kecamatan tersebut Kecamatan Bacukiki merupakan kecamatan terluas dengan luas sekitar 79,90 KM2 atau sekitar 80,24% luas Kota Parepare.

Pada tahun 2006 Jumlah penduduk Parepare berjumlah 118.266 jiwa. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki yaitu 58.423 jiwa laki-laki dan 59.843 jiwa perempuan dengan proporsi jenis kelamin kurang dari 100. Balita (0 – 4 Tahun) dengan proporsi 9,6%. Kelompok usia produktif ( 15 – 59 Tahun ) dengan proporsi 61,8%, sisanya adanya kelompok usia lanjut ( > 60 tahun ) dengan Proporsi 6,7%.

Pada umumnya penduduk di Kota Parepare bekerja pada sektor perdagangan (32.55%), sektor jasa (25.56%) sektor koperasi dan angkutan (15.87%) serta pertanian dan Nelayan (10.30%). Penduduk yang bekerja di bidang perdagangan, jasa dan nelayan terkonsentrasi di Kelurahan Lakessi, Kelurahan Labukkang, dan Kelurahan Ujung Sabbang sedangkan sektor pertanian terkonsentrasi di Kelurahan Watang Bacukiki, Kelurahan Lemoe, dan Kelurahan Lompoe.

Jumlah Kepala keluarga sebanyak 23.267 dan sebanyak 4.909 (21,09%) merupakan keluarga miskin. Tersebar hampir merata di 3 kecamatan, dan yang terbanyak berada di wilayah kecamatan Bacukiki. Bila dibandingkan dengan data tahun 2004 dengan jumlah KK miskin 4.501, maka tampak adanya peningkatan jumlah keluarga miskin dalam 2 tahun terakhir sebesar 9.06% tentunya perlu perhatian yang lebih khusus guna memberikan jaminan pelayanan kesehatan bagi kelompok rawan tersebut. Secara lebih khusus, prosentase penduduk dengan KK miskin terbesar adalah dalam wilayah kerja Puskesmas Lompoe yaitu diatas 30%, yang meliputi Kelurahan Watang Bacukiki, Kelurahan Lemoe dan Kelurahan Lompoe.

Berdasarkan data yang dilaporkan di Kota Parepare, Infant Mortality Rate (IMR) tahun 2005 adalah sebesar 11,56/1000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2006 terdapat 5 kematian bayi dari 2.513 kelahiran hidup, angka konversi IMR sebesar 2 per 1.000 kelahiran hidup, angka tersebut telah sangat rendah bila dibandingkan dengan IMR Nasional (Hasil Surkesnas 2001: 50/1.000 kelahiran hidup), namun demikian banyak kalangan praktisi dan pemerhati pelayanan kesehatan masyarakat di Kota Parepare meragukan angka tersebut. Hasil validasi dan koordinasi data telah memberikan kepastian angka, terkecuali bila ada kehilangan data lapangan. Jumlah kasus lahir mati yang cukup tinggi yakni 13.37 per seribu kelahiran, memerlukan perhatian karena kasus ini sebenarnya menggambarkan mutu dan kualitas layanan kesehatan.

Angka kematian ibu (MMR) menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, serta pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas. Angka kematian ibu (MMR) untuk Kota Parepare tahun 2004 sebanyak 109/100.000 kelahiran hidup dan meningkat pada tahun 2005 sebanyak 115/100.000 kelahiran hidup.

Sementara itu kematian ibu melahirkan di Kota parepare Tahun 2006 sebanyak 3 dari 2.542 kelahiran, hasil konversi MMR : 118/100.000 kelahiran hidup. Jumlah ini lebih tinggi bila dibandingkan tahun 2005 sebesar : 115/100.000 kelahiran hidup. Namun demikian data ini merupakan data berbasis sarana, sehingga dikhawatirkan adanya angka yang lebih besar di masyarakat yang tidak terlaporkan. Tidak terdapat perbedaan angka kematian ibu yang cukup berarti antara wilayah kecamatan. Kasus kematian ibu melahirkan terdapat di Puskesmas Cempae, Puskesmas Lapadde dan Puskesmas Lompoe.

Angka kematian maternal banyak diragukan tingkat akurasi datanya lapangan, mengingat angka tersebut telah cukup rendah bila dibandingkan dengan angka nasional, sedangkan penampilan pelayanan kesehatan yang merujuk pada Indikator Proses (K4) belum sepenuhnya memuaskan.Sebagaimana halnya dengan sebagian besar daerah lain di Indonesia, di Kota Parepare kesehatan ibu dan anak masih menjadi fokus perhatian. Sekalipun angka kasusnya secara absolut kelihatan kecil, tapi dengan karakteristik daerah perkotaan yang dimiliki, luas wilayah yang tidak terlalu besar serta kepadatan komunitas yang tidak terlalu tinggi seharusnya masalah ini lebih mudah diatasi.


Berdasarkan uraian hasil analisis di atas, masalah yang diidentifikasi adalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Masalah kesehatan ibu dan anak adalah masalah yang sangat kompleks. Di dalamnya tercakup masalah-masalah teknis yang sifatnya urgen dan membutuhkan penyelesaian secara tuntas. Masalah kesehatan ibu dan anak secara komprehensif dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari konsistensi kunjungan K1, K4, antisipasi ibu terhadap komplikasi kehamilan, prosentase persalinan oleh tenaga kesehatan (persalinan nakes), sampai pada kebiasaan konsumsi makanan dan minuman ibu yang menentukan status gizi dan sebagainya.

Berdasarkan analisis yang kontinyu diputuskan faktor yang menjadi fokus pada masalah komprehensif tersebut. Terlihat bahwa masih terjadi kematian ibu, bayi dan balita padahal persalinan nakes mencapai prosentase yang sangat tinggi dibanding angka rata-rata nasional. Prosentase ibu yang masih menggunakan jasa dukun terlihat sangat kecil serta sarana dan prasarana yang sudah sangat memadai.

Melalui analisis secara lebih mendalam ditemukan kemungkinan bahwa yang masih menjadi masalah adalah kunjungan ibu hamil ke sarana kesehatan yang cakupannya masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh angka cakupan K4 yang belum mencapai target yang ditetapkan. Karena fokus program yang dipilih adalah peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil ke sarana pelayanan kesehatan.
Alasan memilih fokus program ini antara lain masih seringnya masyarakat mengabaikan kunjungan pemeriksaan kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan. Ada kebiasaan dimana pada saat pemeriksaan pertama dan juga pada saat kelahiran melibatkan tenaga kesehatan, tapi kunjungan pemeriksaan K4 sering diabaikan bahkan pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi kehamilan akibat aktifitas ibu dan rendahnya asupan gizi tidak menjadi perhatian utama ibu hamil.

KELEMAHAN

Pemilihan kunjungan K4 sebagai fokus program pada masalah kesehatan ibu dan anak (KIA) bukannya tidak mempunyai kelemahan. Sebagaimana lazimnya masyarakat yang masih kental dengan kepercayaan tradisional, biasanya pemeriksaan oleh tenaga kesehatan hanya dilakukan pada saat mengetahui kehamilan untuk pertama kalinya dan pada saat meminta pertolongan persalinan. Sementara pelibatan tenaga kesehatan pada sepanjang masa kehamilan sampai masa-masa akhir menjelang persalinan masih melibatkan upaya yang bersifat tradisional dengan anggapan merupakan upaya alternatif. Dalam hal ini promotor kesehatan masih terkendala oleh nilai-nilai tradisional yang dianut oleh masyarakat.

ALTERNATIF SOLUSI

Untuk mengatasi kelemahan di atas, yang perlu dilakukan oleh promotor kesehatan adalah pendekatan persuasif ke dalam kelompok masyarakat sasaran dengan menggunakan bantuan tokoh kunci (key person) yang bisa saja terdiri dari tokoh agama atau tokoh adat. Dapat juga dilakukan kerjasama dengan pihak terkait untuk melatih dukun untuk menjadi partner dari petugas kesehatan.

Bahan Bacaan :

1.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

2.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

3.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

4.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

5.Green, Lawrence & Kreuter, Marshall W, Health Promotion Planning, An Educational and Environtmental Approach, Second Edition, Mayfield Publishing Company. 1991

Tinggalkan komentar »

kerangka teoritis pengembangan topik program promkes

PENDAHULUAN

Penentuan sebuah topik untuk kemudian menjadi fokus program harus didukung oleh teori dan konsep yang dapat mengakomodir permasalahan yang ditemukan. Pentingnya landasan teori dan konsep untuk mendukung pemahaman kita terhadap masalah yang dianalisis, akan memberikan arahan agar pengambilan keputusan untuk menentukan fokus program tidak keluar dari jalur dan kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah-kaidah ilmiah ini merupakan hasil kajian dari berbagai ahli yang sangat kompeten dalam bidangnya, sehingga tidak diragukan kemampuannya untuk mendukung pengambilan keputusan.

Ilmu kesehatan terus berkembang, dan dalam perkembangannya para ahli membuat kajian yang mengelompokkan kesehatan menjadi dua, yakni kesehatan individu dan kesehatan agregat (kumpulan individu) atau kesehatan masyarakat. Ilmu yang mempelajari masalah kesehatan individu dikenal dengan ilmu kedokteran (medicine), sedangkan ilmu yang mempelajari masalah kesehatan agregat adalah ilmu kesehatan masyarakat (public health). Pengelompokan kedua ilmu kesehatan ini ditujukan untuk memperkaya wawasan. Perbedaan keduanya dapat dengan mudah dikenali, sebagai berikut :

a.Obyek atau sasaran ilmu kedokteran adalah individual, sedangkan sasaran ilmu kesehatan masyarakat adalah publik (masyarakat).

b.Kedokteran melakukan pelayanan kuratif (penyembuhan) dan pemulihan (rehabilitatif), sedangkan kesehatan masyarakat lebih melaksanakan pelayanan pencegahan.

c.Keberhasilan pelayanan kedokteran apabila individu sembuh dan pulih kesehatannya, sedangkan keberhasilan pelayanan kesehatan masyarakat adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat.

d.Indikator pelayanan kedokteran adalah bebas dari penyakit dan tidak cacat, sedangkan indikator pelayanan kesehatan masyarakat adalah menurunnya angka kesakitan dan kematian serta meningkatnya status gizi.

Kesehatan masyarakat mempunyai mempunyai dua aspek teoritis (imu atau akademik) dan praktis (aplikatif). Kedua aspek ini mempunyai masing-masing mempunyai peran dalam kesehatan masyarakat. Dari aspek teoritis, kesehatan masyarakat perlu didasari dan didukung dengan hasil-hasil penelitian. Artinya, dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat (aplikasi) harus didasarkan pada temuan-temuan (evident based) dan hasil kajian ilmiah (penelitian). Sebaliknya kesehatan masyarakat juga harus dapat diterapkan (apllied), artinya hasil-hasil studi kesehatan masyarakat harus mempunyai manfaat bagi pengembangan program.

KERANGKA TEORITIS

Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor fisik dan psikis, sedangkan faktor eksternal terdiri dari berbagai faktor antara lain sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan baik individu, kelompok maupun masyarakat dikelompokkan menjadi 4 (empat) faktor oleh Hendrik L. Blum 1974, yang diurut berturut-turut menurut besar pengaruhnya, sebagai berikut :

a.Lingkungan

b.Perilaku

c.Pelayanan Kesehatan

d.Keturunan (Heredity)

Keempat faktor tersebut tidak hanya mempengaruhi kesehatan secara sendiri-sendiri tapi juga dapat mempengaruhi secara simultan dimana dalam pengaruhnya terhadap kesehatan, faktor-faktor ini juga saling mempengaruhi. Karena itu, dalam memelihara kesehatan dari pengaruh keempat faktor tersebut, hendaknya intervensi diarahkan kepada keempat-empatnya.

Pada masalah kesehatan ibu dan anak (KIA) faktor yang diintervensi tidak terletak pada faktor pelayanan kesehatan dan perilaku saja. Faktor-faktor lainnya juga turut diintervensi dengan skala yang disesuaikan dengan kebutuhan. Hanya saja dalam pembahasan ini kita mengacu pada konteks promosi kesehatan yang lebih menitik beratkan pada upaya perubahan perilaku.

ARGUMENTASI PENDUKUNG

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa fokus program yang dipilih adalah kesehatan ibu dan anak khususnya dalam hal kunjungan ibu hamil pada sarana pelayanan kesehatan (k4). Dilihat dari konsep Blum maka intervensi dilakukan terhadap faktor perilaku, karena yang diharapkan adalah adanya perilaku baru yang lebih kondusif bagi ibu hamil untuk menjaga kesehatan dirinya dan kehamilannya, memelihara kesehatan bayi dan balita serta memenuhi kecukupan gizi mereka.

Namun demikian, tidak berarti bahwa faktor-faktor lainnya diabaikan. Faktor-faktor lain juga menjadi sasaran intrvensi dengan skala yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pelayanan kesehatan juga akan diintervensi melalui peningkatan kemampuan dan kinerja petugas serta pemenuhan kebutuhan sarana prasarana. Lingkunganpun harus diitervensi untuk menjaga kemungkinan pengaruhnya terhadap hygiene dan sanitasi masyarakat yang turut mempengaruhi kesehatan ibu dan anak. Untuk itu dalam melaksanakan program ini harus dilakukan kerjasama dengan pihak terkait.

HAMBATAN-HAMBATAN

Hambatan utama yang diperkirakan akan muncul adalah kekaburan terhadap sasaran yang harus diitervensi. Ketika telah ditentukan bahwa masalahnya terletak pada perilaku, maka intervensi utama yang harus dilakukan adalah perubahan perilaku. Adanya pengaruh faktor lain tidak boleh memalingkan promotor kesehatan dari isu utama. Intervensi terhadap faktor lainnya harus disesuaikan dengan skala kebutuhan serta dilakukan kerjasama dengan pelaksanaan program atau kegiatan lainnya.

PEMECAHAN MASALAH

Pemecahan masalah yang mungkin dilakukan adalah menggalang komitmen diantara para pelaksana program untuk secara bersama-sama mengamati suatu permasalahan secara komprehensif. Kerjasama ini sangat penting untuk menjaga agar program mencapai hasil yang maksimal dan juga dilaksanakan secara efisien dan efektif.

Bahan Bacaan :

1.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

2.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

3.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

4.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

5.Green, Lawrence & Kreuter, Marshall W, Health Promotion Planning, An Educational and Environtmental Approach, Second Edition, Mayfield Publishing Company. 1991

Tinggalkan komentar »

KEMITRAAN DAN PERAN SERTA

Apakah Kemitraan Itu ?
•Kemitraan adalah hubungan (kerjsama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat).
•Unsur kemitraan adalah :
1.adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih
2.adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut
3.adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak tersebut
4.adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat.
•Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
•Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan sekaligus merupakan kewajiban bagi semua pihak.
•Masalah kesehatan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dengan masalah lain, seperti masalah pendidikan, ekonomi, sosial, agama, politik, keamanan, ketenagakerjaan, pemerintahan, dll.
•Karenanya masalah kesehatan tidak dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut, khususnya kalangan swasta.
•Dengan peduli pada masalah kesehatan tersebut, berbagai pihak khususnya pihak swasta diharapkan juga memperoleh manfaat, karena kesehatan meningkatan kualitas SDM dan meningkatkan produktivitas.
•Pentingnya kemitraan (partnership) ini mulai digencarkan oleh WHO pada konfrensi internasional promosi kesehatan yang keempat di Jakarta pada tahun 1997.
•Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan upaya kerjsama yang saling memberikan manfaat. Hubungan kerjasama tersebut akan lebih efektif dan efisien apabila juga didasari dengan kesetaraan.

Tujuan Kemitraan dan Hasil yang Diharapkan

Tujuan umum :
Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada umumnya

Tujuan khusus :

1.Meningkatkan saling pengertian;
2.Meningkatkan saling percaya;
3.Meningkatkan saling memerlukan;
4.Meningkatkan rasa kedekatan;
5.Membuka peluang untuk saling membantu;
6.Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan;
7.Meningkatkan rasa saling menghargai;

Hasil yang diharapkan :
•Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan.

Perilaku Kemitraan :

Adalah semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah, Lembaga Perwakilan Rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang dana, dan lain-lain, khususnya swasta.

Prinsip, Landasan dan Langkah Dalam Pengembangan Kemitraan
3 prinsip, yaitu : kesetaraan, dalam arti tidak ada atas bawah (hubungan vertikal), tetapi sama tingkatnya (horizontal); keterbukaan dan saling menguntungkan.
•7 saling, yaitu : saling memahami kedudukan, tugas dan fungsi (kaitan dengan struktur); saling memahami kemampuan masing-masing (kapasitas unit/organisasi); saling menghubungi secara proaktif (linkage); saling mendekati, bukan hanya secara fisik tetapi juga pikiran dan perasaan (empati, proximity); saling terbuka, dalam arti kesediaan untuk dibantu dan membantu (opennes); saling mendorong/mendukung kegiatan (synergy); dan saling menghargai kenyataan masing-masing (reward).
•6 langkah : penjajagan/persiapan, penyamaan persepsi, pengaturan peran, komunikasi intensif, melakukan kegiatan, dan melakukan pemantauan & penilaian.
Peran Dinas Kesehatan dalam Pengembangan Kemitraan di Bidang Kesehatan
Beberapa alternatif peran yang dapat dilakukan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat adalah :
•Initiator : memprakarsai kemitraan dalam rangka sosialisasi dan operasionalisasi Indonesia Sehat.
•Motor/dinamisator : sebagai penggerak kemitraan, melalui pertemuan, kegiatan bersama, dll.
•Fasilitator : memfasiltasi, memberi kemudahan sehingga kegiatan kemitraan dapat berjalan lancar.
•Anggota aktif : berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif.
•Peserta kreatif : sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif.
•Pemasok input teknis : memberi masukan teknis (program kesehatan).
Dukungan sumber daya : memberi dukungan sumber daya sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada.

Indikator Keberhasilan
•Indikator input :
Jumlah mitra yang menjadi anggota.

•Indikator proses :
Kontribusi mitra dalam jaringan kemitraan, jumlah pertemuan yang diselenggarakan, jumlah dan jenis kegiatan bersama yang dilakukan, keberlangsungan kemitraan yang dijalankan.

Indikator output :
Jumlah produk yang dihasilkan, percepatan upaya yang dilakukan, efektivitas dan efisiensi upaya yang diselenggarakan

Tinggalkan komentar »

TEORI MOTIVASI

1. Teori Kebutuhan dengan asumsi: semua orang sama, semua situasi sama, dan selalu ada “satu cara terbaik”

1.1. Teori Hierarkhi Kebutuhan Maslow – Manusia Piramida
Abraham H. Maslow mendaftarkan 5 (lima) jenis kebutuhan manusia dari yang terendah hingga yang tertinggi:
1. Kebutuhan fisiologis
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan sosial
4. Kebutuhan status
5. Aktualisasi diri

1.2. Teori ERG Clayton Alderfer – Manusia Tiga Tingkat
Teori ini membagi kebutuhan hanya menjadi 3 (tiga) tingkat :
1. Kebutuhan Existence kebutuhan fisiologis dan rasa aman (dua tingkat pertama Maslow)
2. Kebutuhan Relatedness kebutuhan sosial dan struktur sosial (tingkat 3 Maslow)
3. Kebutuhan Growth kebutuhan pengembangan diri (tingkat 4 dan 5 Maslow)

2. Teori Perilaku Manusia Tikus
Teori ini mengamati pelbagai perilaku orang yang memang diasumsikan bisa diukur :
1. Jika seseorang memperoleh apa yang diinginkan, maka “penghargaan positif meningkatkan kinerja” (R+)
2. Jika seseorang menghindari apa yang tidak diinginkan, maka “penghargaan negatif meningkatkan kinerja” (R )
3. Jika seseorang memperoleh apa yang tidak diinginkan, maka “hukuman menurunkan kinerja” (P+)
4. Jika seseorang tidak memperoleh apa yang diinginkan, maka “ancaman pemecatan menurunkan kinerja” (P )

2.1. Teori Efek Thorndike Manusia Pencari Kesenangan
Teori ini menyatakan bahwa jika yang dilakukan seseorang menyenangkan, ia akan lebih sering melakukannya; jika perilakunya buruk, ia pasti tidak akan mengulanginya. Jadi perilaku akan semakin melekat pada diri seseorang apabila:
1. Kesenangan atau kepedihan muncul seketika akibat suatu perilaku.
2. Kesenangan atau kepedihan tersebut terjadi berulang ulang.
3. Kesenangan atau kepedihan tersebut benar-benar dirasakan oleh orang tersebut.

2.2. Teori Analisis Transaksional Eric Berne Manusia Bermental Transaksi
Teori ini menyatakan bahwa salah satu motivator paling mendasar dan paling kuat bagi manusia adalah dihargai secara positif; menerima pengakuan pribadi dari orang lain. Seseorang membutuhkan “rangsangan” dari orang lain agar merasa puas secara emosional dan psikologis. Jika rangsangan positif tidak diberikan, mereka yang haus akan rangsangan ini akan semakin sulit diatur dan mengganggu hanya untuk mencari perhatian. Bahkan rangsangan negatif lebih baik dari pada diabaikan atau tidak menerima rangsangan sama sekali.

2.3. Teori Tujuan Manusia Bermental Sepak Bola
Teori ini menyatakan bahwa mencapai tujuan adalah sebuah motivator. Hampir setiap orang menyukai kepuasan kerja karena mencapai sebuah tujuan spesifik. Saat seseorang menentukan tujuan yang jelas, kinerja biasanya meningkat sebab:
• Ia akan berorientasi pada hal hal yang diperlukan
• Ia akan berusaha keras mencapai tujuan tersebut
• Tugas tugas sebisa mungkin akan diselesaikan
• Semua jalan untuk mencapai tujuan pasti ditempuh

Bawahan harus menyetujui dan menerima tujuan itu. Bila mereka berpikir sebuah tujuan terlalu sulit atau tidak penting, ia tidak akan ter-motivasi untuk mencapainya.

2.4. Teori Kelompok Manusia Sosial
Teori ini menyatakan bahwa suatu kelompok kerja cenderung menerapkan norma norma produksi mereka sendiri, dan memastikan anggota baru mereka untuk mengikuti aturan yang dibuat kelompok tersebut. Untuk melakukan hal ini, kelompok biasanya memakai beragam mekanisme sosial agar anggota baru tidak berproduksi secara berlebihan atau kurang.

2.5. Teori Dua Faktor Manusia Berkembang
Teori ini menyatakan bahwa “kepuasan” dan “ketidakpuasan” adalah dua vektor yang berbeda. Seseorang dapat menghindari ketidakpuasan, tetapi hal ini belum tentu memberi kepuasan.
Pemuas : Pekerjaan menarik, Pekerjaan menantang, Kesempatan berprestasi, Penghargaan, Promosi jabatan.
Faktor Darurat: Gaji, Pengawasan, Kondisi kerja, Keamanan kerja, Status.

3. Teori Proses dengan asumsi:
• Perilaku ditentukan oleh pelbagai macam factor
• Setiap orang memutuskan sendiri perilaku mereka dalam organisasi
• Setiap orang memiliki jenis kebutuhan, keinginan, dan tujuan yang berbeda beda dengan orang lain
• Setiap orang memilih rencana perilaku berdasarkan persepsi (harapan) seberapa jauh perilaku tersebut akan mencapai hasil yang diharapkan

3.1. Model Teori Lawler Manusia Pengharap
Teori ini menyatakan. bahwa bawahan harus diarahkan pada peng-hargaan di masa yang akan datang, dari pada belajar dari masa lalu. Bila mereka melihat kemungkinan adanya penghargaan berdasarkan usaha mereka itu, mereka akan semakin bekerja keras, kinerja meningkat dan penghargaan pun diberikan. Akibatnya, hal ini memberi kepuasan yang meningkatkan usaha.

4. Teori Kecenderungan dengan asumsi:
• Setiap orang berbeda
• Kepribadian berdampak pada motivasi
• Setiap orang memiliki kebutuhannya sendiri sendiri

4.1. Teori Tiga Kebutuhan McClelland – Manusia Prestasi
Teori ini menyatakan bahwa bawahan menginginkan 3 (tiga) hal dari pekerjaannya:
• Prestasi (need of achievement) – n-Ach
• Kekuasaan (need of power) – n-Power
• Perhatian (need of affection) – n-Aff

4.2. Teori Percaya Diri Manusia Yang Membatasi Diri
Teori ini menyatakan bahwa bawahan hanya dapat berhasil mencapai target yang mereka yakini dapat mereka capai.

4.3. Teori Keadilan J. Stacy Adam Manusia Adil
Teori ini menyatakan bahwa ketika kita membandingkan dengan orang lain dan kita merasa lebih buruk. Kita melihat situasi kita sebagai kurang adil. Bukan hanya merasa frustrasi, motivasi pun terpengaruh. Ada dua kemungkinan tanggapan:
• Mengurangi usaha sehingga penghargaan tampak adil (menurunkan motivasi)
• Berusaha meningkatkan penghargaan/pendapatan (meningkat-kan motivasi)
Bila itu tidak mungkin, kita menghapus kekecewaan dengan meng-undurkan diri dari organisasi tsb.

4.4. Teori Valensi Manusia Penjudi
Teori ini menyatakan bahwa manusia cenderung membuat pilihan dan mengambil resiko yang tersedia. Ia akan memilih perilaku yang akan memberinya hasil terbaik sesuai dengan apa yang diinginkan. Teori ini memungkinkan seseorang membuat keputusan secara sadar. Ada 3 (tiga) elemen penting:
• Hasil akibat apa yang mungkin timbul dari suatu perilaku
• Valensi seberapa baik atau menarikkan hasil tersebut?
• Harapan jika saya lakukan hal ini, akankah saya memperoleh hasil itu?

4.5. Teori X dan Y Donald McGregor – Manusia Baik dan Jahat
Teori ini menyatakan bahwa cara pandang seorang pemimpin akan mempengaruhi caranya memotivasi bawahan.

TEORI X – pemimpin menganggap bawahan :
• Membenci pekerjaannya
• Membenci tanggung jawab
• Tidak terlalu berambisi
• Tidak mempunyai gagasan
• Tidak mampu menyelesaikan masalah
• Hanya memikirkan uang
• Perlu dikendalikan secara ketat
• Pemalas dan tidak dapat dipercaya

sehingga pemimpin tersebut akan memotivasi dengan cara cara berikut:
– Mengatakan dengan jelas apa yang harus dilakukan, kapan dan bagaimana melakukannya
– Melakukan pengawasan secara ketat
– Membuat semua keputusan seorang diri
– Tidak menghendaki adanya partisipasi
– Penghargaan hanya dalam bentuk gaji
– Mengharapkan kontribusi minimum

TEORI Y pemimpin menganggap bawahan:
• Menikmati pekerjaannya
• Bersedia memberi kontribusi
• Bersedia menerima tanggung jawab
• Dapat membuat keputusan bagi diri sendiri
• Mampu menanggulangi masalah masalah
• Mampu membuat rencana rencana jangka panjang dan mencapainya

sehingga pemimpin tersebut akan memotivasi dengan cara cara berikut:
– Memberi tanggung jawab
– Memberi kesempatan untuk membuat keputusan atas pekerjaan
– Memberi mereka kesempatan memberikan saran-saran dan menjalankannya
– Memberi penghargaan dengan cara lain, bukan hanya dengan uang

Tinggalkan komentar »

KONSEP DAN PRINSIP PROMOSI KESEHATAN

Pengertian Promosi Kesehatan

Pengertian Sehat :

  • Andrea Waas (1994), …no examination of health promotion is possibly without first considering what health is.
  • WHO, …a complete state of physical, mental and social wellbeing, and not merely the absence or infirmity
  • WHO (1986), …a resource for everyday life, not the objective of living.
  • UU 23/1992, …Keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, serta produktif secara ekonomi dan sosial.

Promosi Kesehatan :

4 Komentar »

KONSEP DAN PRINSIP PROMOSI KESEHATAN

  1. Pengertian Promosi Kesehatan

Sehat :

  • Andrea Waas (1994), …no examination of health promotion is possibly without first considering what health is.
  • WHO, …a complete state of physical, mental and social wellbeing, and not merely the absence or infirmity
  • WHO (1986), …a resource for everyday life, not the objective of living.
  • UU 23/1992, …Keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, serta produktif secara ekonomi dan sosial.

Promosi Kesehatan :

  • Soekidjo Notoatmojo (2005) :

Pertama :

…promosi kesehatan dalam konsep Level and Clark (4 tingkat pencegahan penyakit) berarti peningkatan kesehatan.

Kedua :

…upaya memasarkan, menyebarluaskan, memperkenalkan pesan-pesan kesehatan, atau upaya-upaya kesehatan sehingga masyarakat menerima pesan-pesan tersebut.

  • WHO (1984), merevitalisasi pendidikan kesehatan dengan istilah promosi kesehatan, kalau pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya perubahan perilaku maka promosi kesehatan tidak hanya untuk perubahan perilaku tetapi juga perubahan lingkungan yang memfasilitasi perubahan perilaku tersebut.
  • Green (1984), …promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
  • Ottawa Charter (1986),… “the process of enabling people to control over and improve their health”. (Proses pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya).
  • Victorian Health Fundation – Australia (1997),…a program are design to bring about ‘change’ within people, organization, communities and their environment.
  • Bangkok Charter (2005),… “the process of enabling people to increase control over their health and its determinants, and thereby improve their health
  1. Tujuan Promosi Kesehatan

-       Memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.

-       Menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.

  1. Sasaran Promosi Kesehatan

Secara prinsipil, sasaran promosi kesehatan adalah masyarakat. Masyarakat dapat dilihat dalam konteks komunitas, keluarga maupun individu. Sasaran promosi kesehatan juga dapat dikelompokkan menurut ruang lingkupnya, yakni tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan tempat kerja, tatanan tempat-tempat umum, dan institusi pelayanan kesehatan.

  1. Prinsip-prinsip Promosi Kesehatan

-       Promosi Kesehatan (Health Promotion), yang diberi definisi : Proses pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya (the process of enabling people to control over and improve their health), lebih luas dari Pendidikan atau Penyuluhan Kesehatan. Promosi Kesehatan meliputi Pendidikan/ Penyuluhan Kesehatan, dan di pihak lain Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merupakan bagian penting (core) dari Promosi Kesehatan.

-       Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan

-       Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan) sebagai perpaduan dari upaya preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan) dalam rangkaian upaya kesehatan yang komprehensif.

-       Promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang selanjutnya disebut gerakan pemberdayaan masyarakat, juga perlu dibarengi dengan upaya advokasi dan bina suasana (social support).

-       Promosi kesehatan berpatokan pada PHBS yang dikembangkan dalam 5 tatanan yaitu di rumah/tempat tinggal (where we live), di sekolah (where we learn), di tempat kerja (where we work), di tempat-tempat umum (where we play and do everything) dan di sarana kesehatan (where we get health services).

-       Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang dilandasi oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.

-       Promosi Kesehatan sebenarnya juga lebih menekankan pada proses atau upaya, dengan tanpa mengecilkan arti hasil apalagi dampak kegiatan. Jadi sebenarnya sangat susah untuk mengukur hasil kegiatan, yaitu perubahan atau peningkatan perilaku individu dan masyarakat. Yang lebih sesuai untuk diukur: adalah mutu dan frekwensi kegiatan seperti: advokasi, bina suasana, gerakan sehat masyarakat, dll.

  1. Metode dan Media Promosi Kesehatan

Metode :

  1. Metode Promosi Individual

-       Bimbingan dan penyuluhan

-       Interview (wawancara)

  1. Metode Promosi Kelompok

-       Kelompok Besar

a)    Ceramah

b)    Seminar

-       Kelompok Kecil

a)    Diskusi

b)    Brain Storming

c)    Snow Ball

d)    Buzz Group

e)    Role Play

f)     Permainan Simulasi

  1. Metode Promosi Kesehatan Massal

-       Public Speaking

-       Media Massa

Media :

Lihat Sukidjo (2005) halaman 290.

  1. Sejarah Promosi Kesehatan
    1. Era propaganda dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (masa kemerdekaan sampai 1960an)

-       Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene. Kegiatan pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten. Bentuk usahanya dengan mendorong rakyat untuk membuat kakus/jamban sederhana dan mempergunakannya. Lambat laun pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi apa yang dinamakan “Medisch Hygienische Propaganda”. Propaganda ini kemudian meluas pada penyakit perut lainnya, bahkan melangkah pula dengan penyuluhan di sekolah-sekolah dan pengobatan kepada anak-anak sekolah yang sakit. Timbullah gerakan, untuk mendirikan “brigade sekolah” dimana-mana.

-       Perintisan Pendidikan Kesehatan Rakyat oleh Dr. R. Mohtar

  1. Era Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan (1960-1980)

-    Munculnya istilah Pendidikan Kesehatan dan diterbitkannya UU Kesehatan 1960

-    Ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional (12 November 1964)

  1. Era PKMD, Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan melalui Media Elektronik (1975-1995)

-       Peran serta dan pemberdayaan masyarakat (Deklarasi Alma Ata, 1978)

-       Munculnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa)

-       Munculnya Posyandu

-       Penyuluhan kesehatan melalui media elektronik (dialog interaktif, sinetron dll)

  1. Era Promosi dan Paradigma Kesehatan (1995-2005)

-       Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I di Ottawa, Kanada,  munculnya istilah promosi kesehatan (Ottawa Charter, 1986)

memuat 5 strategi pokok Promosi Kesehatan, yaitu : (1) Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy public policy); (2) Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportive environment); (3) Memperkuat gerakan masyarakat (community action); (4) Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills) ; dan (5) Menata kembali arah pelayanan kesehatan (reorient health services).

-       Konferensi Internasional Promosi Kesehatan II di Adelaide, Australia (1988)

Konferensi ini menekankan 4 bidang prioritas, yaitu: (1) Mendukung kesehatan wanita; (2) Makanan dan gizi; (3) Rokok dan alkohol; dan (4) Menciptakan lingkungan sehat.

-       Konferensi Internasional Promosi Kesehatan III di Sundval, Swedia  (1991)

Konferensi ini mengemukakan 4 strategi kunci, yakni: (1) Memperkuat advokasi diseluruh lapisan masyarakat; (2) Memberdayakan masyarakat dan individu agar mampu menjaga kesehatan dan lingkungannya melalui pendidikan dan pemberdayaan; (3) Membangun aliansi; dan (4) Menjadi penengah diantara berbagai konflik kepentingan di tengah masyarakat.

-       Konferensi Internasional Promosi Kesehatan IV di Jakarta, Indonesia  (Jakarta Declaration on Health Promotion, 1997)

Promosi Kesehatan abad 21 adalah :

  • Meningkatkan tanggungjawab sosial dalam kesehatan;
  • Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan;
  • Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan;
  • Meningkatkan kemampuan perorangan dan memberdayakan masyarakat;
  • Mengembangkan infra struktur promosi kesehatan.

PROMOSI KESEHATAN SAAT INI

Promosi Kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas, sebagaimana tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Visi, misi dan strategi tersebut sejalan dan bersama program kesehatan lainnya mengisi pembangunan kesehatan dalam kerangka Paradigma Sehat menuju Visi Indonesia Sehat.

Visi Promosi Kesehatan adalah: “PHBS 2010”, yang mengindikasikan tentang terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah benar-benar visioner, menunjukkan arah, harapan yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai. Visi tersebut juga menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin diperbaiki) ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa bidang garapan Promosi kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menjanjikan perubahan dari dalam diri manusia dalam interaksinya dengan lingkungannya dan karenanya bersifat lebih lestari.

Misi Promosi Kesehatan yang ditetapkan adalah: (1) Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat untuk hidup sehat; (2) Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya phbs di masyarakat; (3) Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan penentu kebijakan. Misi tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu dilakukan oleh Promosi Kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjelaskan fokus upaya dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas bahwa berbagai kegiatan harus dilakukan serempak.

Selanjutnya strategi Promosi Kesehatan yang selama ini dikenal adalah ABG, yaitu: Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Ketiga strategi tersebut dengan jelas menunjukkan bagaimana cara menjalankan misi dalam rangka mencapai visi. Strategi tersebut juga menunjukkan ketiga strata masyarakat yang perlu digarap. Strata primer adalah masyarakat langsung perlu digerakkan peran aktifnya melalui upaya gerakan atau pemberdayaan masyarakat (community development, PKMD, Posyandu, Poskestren, Pos UKS, dll). Strata sekunder adalah para pembuat opini di masyarakat, perlu dibina atau diajak bersama untuk menumbuhkan norma perilaku atau budaya baru agar diteladani masyarakat. Ini dilakukan melalui media massa, media tradisonal, adat, atau media apa saja sesuai dengan keadaan, masalah dan potensi setempat. Sedangkan strata tertier adalah para pembuat keputusan dan penentu kebijakan, yang perlu dilakukan advokasi, melalui berbagai cara pendekatan sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada. Ini dilakukan agar kebijakan yang dibuat berwawasan sehat, yang memberikan dampak positif bagi kesehatan.

Dengan visi, misi dan strategi seperti ini, Promosi Kesehatan juga jelas akan melangkah dengan mantapnya di masa depan. Namun sebagaimana konsep Promosi kesehatan yang disebutkan di muka, visi, misi dan strategi tersebut juga harus dapat dioperasionalkan secara lebih membumi di lapangan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat.

2 Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.