DISKUSI KESEHATAN MASYARAKAT

Memaksimalkan segala upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

peranan analisis komunitas dalam penetapan masalah dan tujuan promkes

pada 23 April 2010

PENDAHULUAN

Promosi Kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Kesehatan optimal didefinisikan sebagai keseimbangan dari kesehatan fisik, emosional, sosial, spiritual dan intelektual. Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui kombinasi upaya untuk meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku dan menciptakan lingkungan yang mendukung praktek kesehatan yang baik. Dari ketiga hal tersebut, dukungan lingkungan akan memberikan kemungkinan dampak terbesar dalam menghasilkan perubahan pada akhirnya. ( Terjemahan : American Journal of Health Promotion, 1989, 3, 3, 5)

Perubahan gaya hidup yang dimaksud dalam definisi tersebut di atas, merupakan produk simultan dari perubahan perilaku yang didasari oleh peningkatan kesadaran dan pembentukan lingkungan yang kondusif bagi perilaku sehat. Semua upaya tersebut memerlukan bantuan promotor kesehatan yang memulai kegiatannya dengan melakukan analisis terhadap komunitas. Dengan melakukan analisis komunitas, promotor kesehatan dapat menentukan bentuk perilaku baru yang diharapkan akan diadopsi oleh masyarakat. Tingkat keberhasilan masyarakat dalam mengadopsi perilaku baru yang ditawarkan bergantung pada metode komunikasi yang digunakan, dan metode komunikasi tersebut dapat dipilih secara tepat, juga atas hasil analisis komunitas. Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa analisis komunitas merupakan kegiatan yang menjadi sumber berbagai informasi yang diperlukan dalam menentukan langkah kegiatan selanjutnya.

Sebuah program promosi kesehatan akan memberikan hasil yang optimal jika dilaksanakan sesuai kebutuhan masyarakat. Pernyataan masyarakat akan kebutuhan-kebutuhannya tidak dapat diharapkan dalam bentuk verbal, karena seringkali menjadi rancu akibat tipisnya perbedaan antara kebutuhan tersebut dengan ‘keinginan’ masyarakat. Karena itu kebutuhan masyarakat harus dijajaki melalui karakteristik-karakteristik yang diperlihatkan oleh keadaan masyarakat baik yang bersifat statis maupun yang dinamis. Karakteristik statis dari masyarakat, dalam konteks kebutuhan untuk promosi kesehatan, dapat berupa pengelompokan atas dasar batas spasial dan batas politik administratif, sedangkan karakteristik dinamis, dalam konteks yang sama, dapat berupa agregasi-agregasi sosial yang umumnya didominasi oleh kepentingan-kepentingan.

KONSEP ANALISIS KOMUNITAS

Pada tingkatan yang lebih tinggi, promosi kesehatan tidak hanya ditujukan bagi peningkatan keterampilan individual dalam memelihara kesehatannya, melainkan mencakup konteks yang lebih luas dalam hal mengubah masyarakat, lingkungan, dan kondisi ekonomi, agar dampak negatif terhadap kesehatan individu dan masyarakat dapat dikurangi. Dalam pemahaman seperti itu maka untuk mengetahui dan memahami secara mendalam tentang apa yang membuat masyarakat berfungsi atau tidak berfungsi secara efektif dalam memperbaiki kesehatannya, perlu dilakukan suatu analisis komprehensif terhadap komunitas. Dasar dari analisis komunitas adalah pengetahuan tentang definisi dan pengenalan terhadap batas-batas fungsional suatu masyarakat.

Secara struktural, masyarakat adalah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang terorganisir oleh batas spasial maupun politik. Pembatasan-pembatasan ini juga ikut diwarnai oleh kebiasaan-kebiasaan yang dianut secara dominan oleh kelompok masyarakat yang hidup pada wilayah geografi tertentu dan pada gilirannya membawa konsekuensi kekhasan yang berbeda dengan kelompok lainnya. Pada sisi lain, sebuah komunitas juga diwarnai oleh fungsi-fungsi agregasi non-geografis seperti pekerjaan, agama, kepentingan khusus atau perwujudan kebutuhan bersama, atas dukungan sumberdaya yang juga dimiliki secara bersama-sama.

Dalam merencanakan program promosi kesehatan, unsur terpenting adalah identifikasi masalah dan penetapan tujuan. Tujuan sebuah program dapat ditetapkan jika promotor kesehatan telah mampu mengenali masalah-masalah yang ada dalam masyarakat serta mengidentifikasinya ke dalam masalah kesehatan. Masalah-masalah tersebut dapat dikenali dan diidentifikasi jika analisis komunitas dilakukan secara komprehensif sesuai dengan kaidah-kaidah yang lazim dilakukan.

Dengan menelaah uraian-uraian di atas, dapat terlihat bagaimana analisis komunitas berperan dalam mengidentifikasi masalah serta menentukan tujuan. Analisis komunitas dapat berarti menelaah berbagai aspek baik berupa unsur-unsur internal yang melekat secara khas dalam kehidupan masyarakat, maupun unsur-unsur eksternal yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan kehidupan masyarakat secara umum.

Beberapa aspek yang menjadi sasaran dalam melakukan analisis komunitas, antara lain identifikasi anggota masyarakat, batas-batas geografis, kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan, aspirasi-aspirasi, motivasi-motivasi para anggotanya dan atau efektifitas sistem pelayanan kesehatan yang tersedia.

Secara lebih rinci tahapan-tahapan dalam melakukan analisis komunitas adalah mengumpulkan informasi, mendefinisikan batas-batas, mendefinisikan latar belakang, menganalisis status kesehatan masyarakat termasuk analisis terhadap sistem perawatan kesehatan dan potensi keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.

Pada tahap selanjutnya dilakukan diagnosis masyarakat untuk menentukan kondisi kesehatan masyarakat, menentukan pola pelayanan kesehatan di masyarakat, menentukan hubungan antara status kesehatan dan pelayanan/perawatan kesehatan serta mengidentifikasi dan menentukan determinan-determinan dari problem utama yang berkaitan dengan kebutuhan dan sumberdaya kesehatan dalam masyarakat bersangkutan.

ARGUMENTASI PENDUKUNG

Titik berat dari pembahasan ini adalah bagaimana melihat peranan analisis komunitas terhadap proses identifikasi masalah serta penentuan tujuan dari program promosi kesehatan. Untuk lebih memudahkan dalam memberikan argumentasi pendukung terhadap uraian sebelumnya, kita mengambil contoh Program Promosi Kesehatan di Kota Parepare.

Untuk dapat mengidentifikasi masalah kesehatan yang akan dipromosikan di Kota Parepare, maka hal yang paling awal harus dilakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui telaah terhadap data-data pelayanan kesehatan yang telah ada. Proses pencarian informasi dari masyarakat yang kemudian dikomparasi dengan data-data pelayanan kesehatan memperlihatkan adanya ‘gap’ antara pertolongan persalinan tenaga kesehatan (PN) yang prosentasenya cukup tinggi 94,65% dengan kenyataan masih terjadinya kematian ibu melahirkan (MMR) 118/100.000 KH dan kematian neonatal (IMR) 2/1000 KH dan balita (U5MR) 0,2/1000 KH. Data ini menggambarkan adanya masalah dalam hal kesehatan ibu dan anak. Sekalipun secara absolut angka-angka kematian ini cukup rendah dibanding angka nasional, tapi dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang relatif kecil serta sarana-prasarana pelayanan kesehatan yang memadai, seharusnya tidak ada lagi kematian ibu dan bayi.

Dengan melakukan tela’ah terhadap berbagai aspek dalam kerangka analisis komunitas, ditemukan bahwa terdapat perilaku yang kurang mendukung terhadap pemeliharaan kesehatan ibu baik semasa kehamilan maupun menyusui serta rendahnya status gizi ibu, bayi dan balita. Perilaku tidak kondusif yang ditemukan adalah rendahnya cakupan K1 dan K4. Dari sebanyak 2.490 ibu hamil jumlah yang melakukan kunjungan K-4 pada antenatal care dan mendapatkan pelayanan ANC yang lengkap hanya 1.908. Angka ini belum mencapai target 2008 yang dicanangkan sebesar 88%.

Data status gizi bayi dan balita tahun 2004 menunjukkan status kurang gizi sebanyak 61 orang (1,37%). Jumlah anak yang BGM sebanyak 74 anak (1,67 %) dan jumlah anak yang BGT sebanyak 73 anak (1,10 %). Pada tahun 2005 jumlah BGM meningkat menjadi 102 dan BGT menjadi 210 anak. Anak balita KEP nyata sebanyak 44 anak (0,10 %) dari 4.438 jumlah balita yang ditimbang di posyandu. Untuk tahun 2006, balita dengan status gizi buruk sebanyak 10.9/1000 balita, sedangkan gizi kurang 33.6 /1000 balita.

Dari hasil pengumpulan informasi serta penelaahan data pelayanan kesehatan dapat terlihat masalah yang memerlukan penanganan segera, dan dengan sendirinya dapat ditentukan tujuan yang ingin dicapai dalam program promosi kesehatan. Sangat sulit jika secara tiba-tiba tujuan ditetapkan tanpa melakukan analisis. Jika identifikasi tidak tepat mungkin saja yang dianggap masalah adalah kesehatan ibu dan anak secara umum, dan jika demikian maka sudah pasti penetapan tujuan program melenceng dari sasaran. Misalnya, karena masalah yang terlihat adalah kesehatan ibu dan anak, maka diidentifikasi masalah yang akan diitervensi adalah persalinan tenaga kesehatan (PN), kekeliruan ini akan berlanjut pada penentuan tujuan program karena sasaran juga telah meleset. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa analisis komunitas dapat membantu promotor kesehatan untuk mempertajam identifikasi masalah serta penetapan tujuan.

KELEMAHAN-KELEMAHAN

Melakukan identifikasi masalah dan menetapkan tujuan dengan bantuan analisis komunitas, tentunya tetap mempunyai kelemahan disamping kelebihan-kelebihan. Kelemahan yang paling mudah terbaca terletak pada kerumitan dalam melakukan analisis terhadap berbagai aspek komunitas. Kerumitan ini menuntut kejelian dan kehandalan kemampuan dari seorang perencana program (promotor kesehatan). Banyaknya aspek yang harus dianalisis bisa saja mengundang kekeliruan dalam memahami masalah yang harus diidentifikasi.

SOLUSI MENGATASI HAMBATAN

Kelemahan di atas merupakan hambatan yang akan mengganggu proses perencanaan program promosi, karena itu harus diatasi dengan melakukan fokus sejak awal terhadap aspek-aspek tertentu. Obyek analisis harus dilokalisir sedemikian rupa sehingga identifikasi masalah dapat dilakukan secara lebih tajam. Sedangkan dari sisi promotor kesehatan, harus ‘berlatih’ untuk melakukan analisis yang cermat dalam melakukan identifikasi serta piawai dalam menetapkan tujuan yang akan dicapai.

Bahan Bacaan :

1.Thaha, Ridwan M. Bahan Kuliah Manajemen Program Promosi, Program Pascasarjana Promkes Univ. Hasanuddin Makassar. 2008

2.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

3.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

4.Siswanto, Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol.09 Hal. 168-176 Nomor 04 Desember 2006.

5.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

6.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: