DISKUSI KESEHATAN MASYARAKAT

Memaksimalkan segala upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

PERAN FAKTOR PERILAKU DALAM PENERAPAN INISIASI MENYUSU DINI DI KOTA PAREPARE (Role Of Behavioral Factors In Early Breastfeeding Initiation In Parepare City)

Muhammad Idris1, H. M. Rusli Ngatimin2, Muh. Syafar2

1Dinas Kesehatan Kota Parepare Sulawesi Selatan, 2Konsentrasi Promosi Kesehatan PPS Unhas

Alamat Korespondensi : Dinas Kesehatan Jl. Ganggawa No. 3 Kota Parepare Telepon/Fax : (0421) 26816 / Mobile : 085796923686  Email : midris70@yahoo.co.id or M.I.20121970@gmail.com

ABSTRACT

In behavioral context, successful of early breastfeeding initiation by breast crawl was influenced by internal and external behavioral factors. The aims of the research are to explore information concerning role of behavioral factors and also described about health officer’s communication strategies to apply in early breastfeeding initiation. This research used inductive paradigm with ethno-methodology approach to assist researcher viewed community opinions about various behavioral choices in their everyday life related decision to conducted early breastfeeding initiation. Result of qualitative analysis showed relevance between some internal and external behavioral factors with early breastfeeding initiation. Internal factors which role to early breastfeeding initiation were attitude and knowledge about colostrums, knowledge about early breastfeeding initiation, lactation experience and motivation.  Mother’s motivation to conduct lactation practice constituted by social, economics, trust, and health aspect, while motivation to conduct early breastfeeding initiation stimulated by desire to try something new (novelty). External factors which roles to early breastfeeding initiation were health service facility, delivery helper and behavioral tendency in living place related lactation practices, also family and closest people. The main source of information concerning early breastfeeding initiation for mother was midwife. This research concluded the existence of role from internal and external behavioral factors to readiness of mother to conduct early breastfeeding initiation, and recommended ‘ready to handle plan’ and advocate training of midwife concern early breastfeeding initiation  and also research follow-up to get more useful result.

Keywords: initiation, colostrums, midwife Read the rest of this entry »

6 Komentar »

KONSEP DASAR PERENCANAAN

A. PENGERTIAN DAN BATASAN

Rencana (plan) adalah dokumen yang digunakan sebagai panduan kerja untuk mencapai tujuan. Dokumen ini biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwal, serta tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi penggunaannya. Berdasarkan cakupannya, rencana dapat dibagi menjadi rencana strategis dan rencana operasional. Rencana strategis adalah rencana umum yang berlaku di seluruh lapisan organisasi, sedangkan rencana operasional adalah rencana yang mengatur kegiatan sehari-hari anggota organisasi.

Secara umum Perencanaan didefinisikan sebagai suatu proses menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana tujuan tersebut dapat dicapai. Secara spesifik definisi perencanaan sangat beragam tergantung pada area mana perencanaan tersebut dibutuhkan serta sudut pandang yang digunakan.

Beberapa definisi perencanaan dapat dikemukakan sebagai berikut :

Henry Fayol :

Perencanaan adalah aktivitas memperkirakan keadaan di masa depan

W.B. Casttater :

Perencanaan adalah cara manusia memproyeksikan keinginannya

Leorin W. Anderson :

Planning is a process by which an individual visualizes the future and creates a framework to guide his or her action in the future

Clark & Peterson :

Planning is preparing a framework for guiding future action

Carter McNamara :

Planning is setting the direction for something — some system — and then working to ensure the system follows that direction.

Cooper, J.M. :

All planning has a future orientation, and all planning involves some intention for action to fulfill some purpose

Perencanaan merujuk pada kata kunci :

•         Aktivitas atau proses yang dilaksanakan sekarang

•         Merupakan penuntun (guideline, framework) untuk dilakukan di masa yang akan datang

•         Dilakukan dalam suatu sistem

•         Dalam rangka mencapai tujuan

Beberapa definisi telah mengalami perkembangan akibat pesatnya kemajuan ilmu manajemen serta semakin kompleksnya permasalahan organisasi yang dihadapi, definisi yang dapat dikemukakan antara lain : Read the rest of this entry »

Tinggalkan komentar »

KONSEP MANAJEMEN STRATEGIS

A. Pengertian Organisasi, Manajemen dan Strategi

Dalam mencapai tujuan hidupnya setiap orang membutuhkan orang lain, baik sebagai rekan untuk bekerjasama maupun sebagai referensi untuk aktifitas yang dilakukannya. Pada awalnya kerjasama mungkin dilakukan dengan orang lain dalam jumlah yang terbatas. Namun Seiring dengan kemajuan dan meningkatnya volume dari pekerjaan maupun bertambahnya tujuan yang ingin dicapai, maka kerjasama yang dijalin semakin rumit, membutuhkan semakin banyak orang serta harus diatur dengan baik dan seimbang. Setiap orang yang tergabung dalam sebuah kelompok yang bekerjasama dituntut untuk menjalani perannya masing-masing, sesuai kemampuan atau latar belakang keahliannya. Masing-masing peran memiliki wewenang, tanggung jawab serta konsekuensinya masing-masing. Keadaan yang diuraikan diatas, merupakan sebagian dasar untuk mengembangkan ilmu manajemen yang pada intinya terdiri dari 3 (tiga) komponen utama, yakni manajemen itu sendiri, organisasi serta strategi pencapaian tujuan.

ORGANISASI

Beberapa definisi organisasi :

1. “…a group of people working together in a structured and coordinated fashion to achieve a set of goals.” …sekelompok orang yang bekerja sama dalam struktur dan koordinasi tertentu untuk mencapai serangkaian tujuan tertentu (Griffin, 2002)

2. Organisasi merupakan suatu sistem aktifitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih (Berdnard, 1938)

3. Organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama serta secara formal dan terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan, dimana dalam ikatan tersebut terdapat seseorang atau sekelompok orang yang disebut atasan dan seseorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan (Sondang P. Siagian)

Dari beberapa definisi tentang organisasi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa organisasi merupakan sekumpulan orang yang bekerjasama secara formal untuk mencapai tujuan bersama.

MANAJEMEN

Beberapa definisi manajemen :

1. Sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, & pengendalian orang-orang serta  sumberdaya organisasi lainnya (Nickels, McHugh & McHugh ,1997) Read the rest of this entry »

Tinggalkan komentar »

JENIS-JENIS ASURANSI

Keberhasilan penyelenggaraan asuransi kesehatan di suatu negara sangat tergantung pada situasi dan kondisi serta jenis asuransi yang dijalankan, baik satu jenis ataupun gabungan serta modifikasi berbagai jenis asuransi yang ada. Azwar A (1996) membagi jenis asuransi berdasarkan ciri-ciri khusus yang dimiliki, sedangkan Thabrany H  (1998) membagi atas berbagai model berdasarkan hubungan ketiga komponen asuransi yaitu peserta,  penyelenggara pelayanan kesehatan serta badan/perusahaan asuransi. Berdasarkan pendapat tersebut,  secara garis besar ada beberapa jenis asuransi :

1.  Ditinjau dari hubungan ketiga komponen asuransi

a.         Asuransi tripartied; apabila ketiga komponen asuransi terpisah satu sama lain dan masing-masing berdiri sendiri.

b. Asuransi bipartied; PPK dapat merupakan milik atau dikontrol oleh perusahaan asuransi.

2.  Ditinjau dari jumlah peserta

Ditinjau dari jumlah peserta, asuransi kesehatan dibedakan atas :

a.  Asuransi kesehatan individu jika pesertanya perorangan.

b. Asuransi kesehatan kelompok jika pesertanya satu kelompok.

3.  Ditinjau dari keikutsertaan anggota

Ditinjau dari keikutsertaan anggota, asuransi kesehatan dibedakan atas :

a.  Asuransi kesehatan wajib (Compulsory Health Insurance)

Yaitu asuransi kesehatan yang wajib diikuti oleh suatu kelompok tertentu misalnya dalam suatu perusahaan atau suatu daerah bahkan suatu negara.

b.  Asuransi kesehatan sukarela (Voluntary Health Insurance)

Yaitu asuransi kesehatan yang keikutsertaannya tidak wajib tetapi diserahkan kepada kemauan dan kemampuan masing-masing.

4.  Ditinjau dari kepemilikan badan penyelenggara

Ditinjau dari kepemilikan badan penyelenggara, asuransi kesehatan dibagi atas:

a.  Asuransi kesehatan pemerintah (Government Health Insurance) yaitu asuransi kesehatan milik pemerintah atau pengelolaan dana dilakukan oleh pemerintah. Keuntungan yang diperoleh khususnya bagi masyarakat kurang mampu karena mendapat subsidi dari pemerintah. Di lain pihak, biasanya mutu pelayanan kurang sempurna sehingga masyarakat merasa tidak puas.

b.  Asuransi kesehatan swasta  (Private Health Insurance) yaitu asuransi kesehatan milik swasta atau pengelolaan dana dilakukan oleh suatu badan swasta. Keuntungan yang diperoleh biasanya mutu pelayanan relatif lebih baik, sedangkan kerugiannya sulit dilakukan pengamatan terhadap penyelenggaranya.

5.  Ditinjau dari peranan badan penyelenggara asuransi

Ditinjau dari peranan badan penyelenggara asuransi, asuransi kesehatan dibagi atas :

a.  Hanya bertindak sebagai pengelola dana

Bentuk ini berkaitan dengan model tripartied, merupakan bentuk klasik dari asuransi kesehatan. Bentuk ini akan merugikan atau menguntungkan tergantung dari kombinasi dengan sistem pembayaran yang dijalankan. Jika dikombinasikan dengan reimbursment,  akan merugikan. Sebaliknya jika dikombinasi dengan prepayment akan menguntungkan.

b.  Badan penyelenggara asuransi juga bertindak sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan.

Jenis ini sesuai dengan bentuk  bipartied, keuntungan yang di peroleh adalah pengamatan terhadap biaya kesehatan dapat ditingkatkan sehingga terjadi penghematan.  Kerugiannya  pelayanan kesehatan yang diberikan tergantung dari badan penyelenggara bukan kebutuhan masyarakat.

6.  Ditinjau dari jenis pelayanan yang ditanggung

Ditinjau dari jenis pelayanan  yang ditanggung, asuransi kesehatan dapat dibedakan  atas :

a.  Menanggung seluruh jenis pelayanan kesehatan, baik pengobatan (kurative),  pemulihan (rehabilitative), peningkatan (promotive) maupun pencegahan  (preventive). Dengan demikian pelayanan yang  diberikan bersifat menyeluruh  (comprehensive) dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta sehingga peserta jarang sakit dan secara timbal balik akan menguntungkan badan penyelenggara asuransi.

b.  Menanggung sebagian pelayanan kesehatan, biasanya yang membutuhkan biaya besar misalnya perawatan di rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang biayanya kecil misalnya pelayanan kesehatan di puskesmas.

7.  Ditinjau dari jumlah dana yang ditanggung

Ditinjau dari jumlah dana yang ditanggung, asuransi kesehatan dibagi atas :

a.  Seluruh biaya kesehatan yang diperlukan ditanggung oleh badan penyelenggara. Keadaan ini dapat  mendorong pemanfaatan yang berlebihan oleh peserta terutama bila keadaan peserta kurang.

b. Hanya sebagian biaya kesehatan  yang ditanggung oleh badan penyelenggara.

Dengan cara ini dapat menguran gi pemanfaatan yang berlebihan  atau moral hazard  ditinjau dari pihak peserta ka rena peserta asuransi harus memberikan kontribusi yang tel ah ditetapkan bila memakai layanan kesehatan (cost sharing).

8.  Ditinjau dari cara pembayaran kepada penyelenggara pelayanan kesehatan

Ditinjau dari cara pembayaran kepada penyeleng gara pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan terbagi atas :

a.  Pembayaran berdasarkan jumlah kunjungan peserta yang memanfaatkan pelayanan kesehatan (reimbursment).  Dengan demikian jumlah peserta  berbanding lurus dengan jumlah uang yang diterima oleh penyelenggara pelayanan kesehatan.

b.  Pembayaran berdasarkan kapitasi yaitu berdasarkan jumlah anggota/penduduk yang dilayani, berdasarkan konsep wilayah.

9.  Ditinjau dari waktu pembayaran terhadap PPK

Ditinjau dari waktu pembayaran terhadap PPK, asuransi kesehatan terbagi atas:

a. Pembayaran setelah pelayanan kesehatan selesai diselenggarakan (Retrospective Payment),  biasanya dihitung berdasarkan  service by service atau patient by patient.

b.  Pembayaran di muka (pre payment) yaitu diberikan sebelum pelayanan diselenggarakan, biasanya perh itungan berdasarkan kapitasi dengan pelayanan komprehensif dengan  tujuan penghematan dan mengurangi moral hazard dari penyelenggara pelayanan kesehatan.

10.    Ditinjau dari jenis jaminan

Ditinjau dari jenis jaminan, asuransi kesehatan dibagi atas :

a.  Jaminan dengan uang, yaitu asuransi yang membayar dengan mengganti biaya pelayanan yang diberikan.

b. Jaminan yang diberikan tidak berupa uang (Managed Care), contohnya : JPKM, Askes.

2 Komentar »

RISIKO DAN RISIKO SAKIT

Pemahaman tentang Risiko

Istilah ‘risiko’ berkaitan erat dengan ‘ketidakpastian’ (uncertain). Sesuatu yang tidak pasti dapat berakibat menguntungkan ataupun merugikan. Ketidakpastian yang berakibat menguntungkan disebut ‘peluang’ (opportunity), sedangkan ketidakpastian yang berakibat merugikan disebut ‘risiko’ (risk). Karena itu kata risiko yang diserap dari bahasa Inggris risk, bermakna suatu keadaan tidak pasti yang kemungkinan memberikan akibat merugikan.

Setiap kondisi ketidakpastian mengandung kemungkinan ‘peluang’ ataupun ‘risiko.’ Risiko akan semakin besar seiring dengan tidak adanya atau sedikitnya informasi yang diperoleh mengenai apa yang akan terjadi. ‘Peluang’ maupun ‘risiko’ selalu terjadi bersama-sama dan besarnya tergantung pada arah kecenderungan ketidakpastian tersebut. Risiko dapat digolongkan menjadi 2 (dua) bentuk, yakni :

1. Risiko Murni

Risiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Salah satu contoh adalah kebakaran, apabila perusahaan menderita kebakaran, maka perusahaan tersebut akan menderita kerugian. Kemungkinan yang lain adalah tidak terjadi kebakaran. Dengan demikian kebakaran hanya menimbulkan kerugian, bukan menimbulkan keuntungan, kecuali ada kesengajaan untuk membakar dengan maksud-maksud tertentu. Salah satu cara menghindarkan risiko murni adalah dengan asuransi. Dengan demikian besarnya kerugian dapat diminimalkan, karena itu risiko murni kadang dikenal sebagai risiko yang dapat diasuransikan (insurable risk).

2. Risiko Spekulatif

Risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi seseorang atau perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian. Risiko spekulatif kadang-kadang dikenal pula dengan istilah risiko bisnis (business risk). Seseorang yang menginvestasikan dananya disuatu tempat menghadapi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama investasinya menguntungkan atau malah investasinya merugikan. Risiko yang dihadapi seperti ini adalah risiko spekulatif. Risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat menimbulkan kerugian.

Risiko Sakit

Risiko sakit adalah kemungkinan yang dihadapi oleh semua seorang, dan ini juga berarti ada risiko biaya untuk membayar pelayanan kesehatan sebagai upaya pemulihan dari kondisi sakit tersebut. Risiko tersebut dapat dikelola menjadi suatu bentuk kepastian yaitu dengan membuat produk asuransi kesehatan yang memastikan adanya penggantian biaya pengobatan kalau pembeli produk asuransi itu jatuh sakit. Produk asuransi ini memang tidak mengubah risiko sakitnya, namun dapat mengubah risiko dampak biaya akibat sakit tersebut.

Melihat sifat dan definisi risiko yang diartikan dari asal katanya, maka risiko yang ada itu dapat dijadikan produk asuransi karena tingkat risiko tersebut dapat diperhitungkan berdasarkan kekerapan dan kerugian yang ditimbulkan. Perhitungan inilah yang disebut sebagai analisis risiko oleh asuransi untuk menghitung besar premi yang harus dibayar oleh seseorang yang bergabung dalam kelompok untuk berbagi risiko.

Fokus perhatian dunia asuransi adalah risiko yang terkait dengan kerugian baik berupa materiil maupun berupa kehilangan kesempatan berproduksi akibat menderita penyakit berat. Dalam setiap langkah kehidupan kita, selalu saja ada risiko, baik kecil seperti terjatuh akibat tersandung kerikil sampai yang besar seperti kecelakaan lalu lintas yang dapat menimbulkan kematian atau kecacatan. Beruntung Tuhan telah memberikan sifat alamiah manusia yang selalu menghindarkan diri dari berbagai risiko. Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk menghindarkan dirinya dari berbagai risiko. Secara umum, cara-cara menghindarkan diri dari berbagai risiko hidup disebut sebagai manajemen risiko yang dikelompokan menjadi empat kelompok besar, akan dibahas berikut ini.

Manajemen Risiko

Dalam ilmu manajemen risiko atau risk management, kita mengenal beberapa teknik menghadapi risiko yang dapat terjadi pada semua aspek kehidupan :

1. Menghindarkan risiko (risk avoidance).

Kalau kita merokok, ada risiko terkena penyakit kanker paru atau penyakit jantung (kardiovaskuler). Salah satu cara menghindari terjadinya risiko terkena penyakit paru atau jantung tersebut adalah menjauhi bahan-bahan karsinogen (yang menyebabkan kanker) yang terkandung dalam rokok. Kalau kita tidak ingin mendapat kecelakaan pesawat terbang, jangan pernah naik pesawat terbang. Banyak orang melakukan teknik manajemen ini untuk risiko besar yang kasat mata. Seseorang akan menghindari naik gunung yang terjal tanpa alat pengaman, karena risiko jatuh ke jurang dapat dilihat langsung oleh mata. Tetapi banyak orang tidak menyadari bahwa risiko tersebut dapat muncul 20-30 tahun seperti yang terjadi pada risiko kanker paru atau kelainan jantung akibat merokok, sehingga kebiasaan itu dianggap tidak berisiko atau berisiko rendah. Kesadaran tentang risiko jangka panjang itu yang harus disosialisasikan kepada masyarakat supaya mereka mampu mengantisipasinya. Tidak semua orang mampu mengenali, merasakan dan menghindari risiko. Ada kelompok yang hanya mampu mengenali dan merasakan, namun tidak mampu menghindarinya. Karenanya manajemen risiko dengan cara menghindari saja tidak cukup untuk melindungiseseorang dari risiko yang akan terjadi.

2. Mengurangi risiko (risk reduction).

Jika upaya menghindari risiko tidak mungkin dilakukan, manajemen risiko dapat dilakukan dengan cara mengurangi risiko (risk reduction). Contohnya, kita membuat jembatan penyeberangan atau lampu khusus penyeberangan untuk mengurangi jumlah orang yang menderita kecelakaan lalu lintas. Dengan demikian, pengemudi kendaraan akan berhati-hati. Atau jika ada jembatan penyeberangan, maka risiko tertabrak mobil akan menjadi lebih kecil, tetapi tidak meniadakan sama sekali. Seorang pengendara sepeda motor diwajibkan memakai helm karena tidak ada satu orangpun yang bisa terhindar seratus persen dari kecelakaan berkendara sepeda motor. Jika helm digunakan, maka beratnya risiko (severity of risk) dapat dikurangi, sehingga seseorang dapat terhindar dari kematian atau gegar otak yang memerlukan biaya perawatan sangat besar. Tetapi, bagi kebanyakan pengendara sepeda motor, yang belum pernah menyaksikan betapa dahsyatnya akibat gegar otak dan berapa mahalnya biaya perawatan akibat gegar otak, tidak menyadari hal itu. Kalaupun mereka mengenakan helm, seringkali sekedar untuk menghindari dari tekanan penalti akibat pelanggaran (tilang) peraturan lalu lintas oleh polisi yang sesungguhnya merupakan risiko kecil (yang hanya sebesar ratusan ribu rupiah saja). Imunisasi terhadap penyakit hepatitis (radang hati), yang dapat berkembang menjadi kanker hati yang memerlukan perawatan dengan biaya mahal serta dapat mematikan pada usia muda, merupakan suatu upaya pengurangan risiko. Karena prilaku manusia yang tidak selalu menyadari risiko besar itu, maka mekanisme menurunkan risiko saja tidak memadai. Imunisasi hepatitis tidak menjamin seratus persen setiap orang yang telah diimunisasi pasti tidak terhindar dari penyakit kanker hati. Masih diperlukan manajemen risiko yang lain.

3. Memindahkan risiko (risk transfer).

Sebaik apapun upaya mengurangi risiko yang telah kita lakukan tidak menjamin 100% kita akan terbebas dari segala risiko. Karena itu kita perlu melindungi diri kita dengan tameng lapis ketiga dari manajemen risiko yaitu mentransfer risiko diri kita ke pihak lain. Kita dapat memindahkan seluruh atau sebagian risiko kepada pihak lain (yang dapat berupa perusahaan asuransi, badan penyelenggara jaminan sosial, pemerintah, atau badan sejenis lain) dengan membayar sejumlah premi atau iuran, baik dalam jumlah nominal tertentu maupun dalam jumlah relatif berupa prosentase dari gaji atau harga pembelian (transaksi). Dengan teknik manajemen risiko ini, risiko yang ditransfer hanyalah risiko finansial, bukan seluruh risiko. Ada sebagian risiko yang tidak bisa ditransfer, misalnya rasa sakit atau perasaan kehilangan yang dirasakan oleh penderita.. Ini merupakan prinsip yang sangat fundamental di dalam asuransi. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa setiap saat sesungguhnya ada risiko kematian dan risiko kematian itu yang berpotensi menyebabkan ketiadaan dana bagi ahli warisnya untuk menjalani hidup sehari-hari atau untuk membiayai pendidikan anak, dapat ditransfer dengan membeli asuransi jiwa. Itulah sebabnya, kebanyakan orang di negara berkembang tidak membeli asuransi jiwa, karena banyak orang tidak melihat kematian sebagai suatu risiko finansial bagi ahli warisnya. Judi juga merupakan risk transfer.

4. Mengambil risiko (risk asumption).

Jika risiko tidak bisa dihindari, tidak bisa dikurangi, dan tidak dapat ditransfer akibat ketidakmampuan seseorang atau tidak ada perusahaan yang dapat menerima transfer risiko tersebut, maka alternatif terakhir adalah mengambil atau menerima risiko (sebagai takdir). Tidak semua orang bersikap rasional dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko tersebut diatas. Ada orang yang tidak perduli dengan risiko yang dihadapinya dan dia mengambil atau menerima suatu risiko apa adanya. Orang yang berprilaku demikian disebut pengambil risiko (risk taker). Apabila semua orang bersikap sebagai pengambil risiko, maka usaha asuransi tidak akan pernah ada. Sebaliknya, jika seseorang bersikap sebagai penghindar risiko (risk averter) maka ia akan berusaha menghindari, mengurangi, atau mentransfer risiko yang mungkin terjadi pada dirinya. Apabila banyak orang bersikap menghindari risiko, maka deman terhadap usaha asuransi akan tumbuh.

Risiko yang dapat diasuransikan

Diatas telah dijelaskan empat kelompok besar manajemen risiko yang memperlihatkan asuransi sebagai cara terakhir sebelum kita memutuskan menerima atau mengambil risiko tersebut. Tidak semua risiko dapat diasuransikan, ada persyaratan risiko untuk dapat diasuransikan (insurable risks). Risiko yang terlalu kecil seperti terserang pilek atau kehilangan sebuah pinsil, tidak dapat diasuransikan. Beberapa syarat risiko untuk dapat diasuransikan adalah sebagai berikut.

1. Risiko tersebut haruslah bersifat murni (pure).

Menurut sifat kejadiannya, risiko dapat timbul benar-benar sebagai suatu kebetulan atau accidental dan dapat timbul karena suatu perbuatan spekulatif. Risiko murni adalah risiko yang spontan, tidak dibuat-buat, tidak disengaja, atau dicari-cari bahkan tidak dapat dihindari dalam jangka pendek. Orang berdagang mempunyai risiko rugi, tetapi risiko rugi tersebut dapat dihindari dengan manajemen yang baik, belanja dengan hati-hati, dan sebagainya. Risiko rugi akibat suatu usaha dagang merupakan risiko spekulatif yang tidak dapat diasuransikan. Oleh karenanya tidak ada asuransi yang menawarkan pertanggungan kalau suatu perusahaan merugi. Suatu risiko yang timbul akibat suatu tindakan kesengajaan, karena ingin mendapatkan santunan asuransi misalnya, tidak dapat diasuransikan. Contoh, seseorang mempunyai asuransi kematian sebesar satu milyar rupiah, dapat saja dibunuh oleh ahli warisnya guna mendapatkan manfaat/jaminan asuransi sebesar satu milyar rupiah tersebut. Kematian yang disebabkan karena kesengajaan seperti itu tidak dapat ditanggung. Seseorang yang sengaja mencoba bunuh diri dengan meminum racun serangga dan gagal sehingga perlu perawatan di rumah sakit tidak berhak atas jaminan perawatan, karena risiko sakitnya bukanlah risiko murni. Contoh risiko murni adalah penyakit kanker. Sakit kanker, yang membutuhkan perawatan yang lama dan mahal, tidak pernah diharapkan oleh si penderita dan karenanya penyakit kanker merupakan risiko murni yang dapat diasuransikan atau dijamin oleh asuransi.

2. Risiko bersifat definitif.

Pengertian definitif artinya risiko dapat ditentukan kejadiannya secara pasti dan jelas serta dipahami berdasarkan bukti kejadiannya. Risiko sakit dan kematian dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Risiko kecelakaan lalu lintas dibuktikan dengan surat keterangan polisi. Risiko kebakaran dibuktikan dengan berita acara dan bukti-bukti lain seperti foto kejadian.

3. Risiko bersifat statis.

Pengertian statis artinya probabilitas kejadian relatif statis atau konstan tanpa dipengaruhi perubahan politik dan ekonomi suatu negara. Hal tersebut berbeda dengan risiko bisnis yang bersifat dinamis karena sangat dipengaruhi stabilitas politik dan ekonomi. Tentu saja, risiko yang benar-benar statis dalam jangka panjang tidak banyak. Risiko seseorang terserang kanker atau gagal jantung akan relatif statis, tidak dipengaruhi keadaan ekonomi dan politik, namun dalam jangka panjang risiko serangan jantung dipengaruhi keadaan ekonomi. Di negara maju, yang relatif kaya dan penduduk cenderung mengkonsumsi makan enak dengan kandungan tinggi lemak, memperlihatkan probabilitas serangan jantung lebih tinggi dibandingkan dengan negara miskin.

4. Risiko berdampak finansial.

Setiap risiko mempunyai dampak finansial dan non finansial. Risiko yang dapat diasuransikan adalah risiko yang mempunyai dampak financial, karena yang dapat diperhitungkan adalah kerugian finansial. Transfer risiko dilakukan dengan cara membayar premi atau kontribusi kepada perusahaan asuransi, yang akan memberikan penggantian bila terjadi dampak finansial suatu risiko yang telah terjadi. Suatu kecelakaan diri misalnya mempunyai dampak finansial berupa biaya prawatan dan atau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan. Selain berdampak finansial, suatu kecelakaan juga menimbulkan rasa nyeri dan beban psikologis jika kecelakaan tersebut menimbulkan kematian atau kecacatan, sehingga risiko tersebut menimbulkan dampak yang besar. Dari semua dampak yang terjadi, hanya risiko finansial berupa biaya perawatan dan kehilangan penghasilan akibat kehilangan jiwa atau kecacatan. Dampak rasa nyeri dan perasaan kehilangan tidak dapat diasuransikan karena ukurannya sangat subyektif. Manfaat yang dapat ditawarkan asuransi untuk mengganti dampak finansial tersebut adalah penggantian biaya pengobatan dan perawatan (baik dalam bentuk uang atau pelayanan) maupun uang tunai sebagai pengganti kehilangan penghasilan akibat kematian atau kecacatan tersebut.

5. Risiko measurable atau quantifiable.

Syarat lain adalah besarnya kerugian finansial akibat risiko tersebut dapat diperhitungkan secara akurat. Kalau seorang sakit, harus dapat diterangkan lokasi terjadinya penyakit, waktu kejadian, jenis penyakit, tempat perawatan (nama dan lokasi rumah sakit), dan biaya yang dibutuhkan untuk perawatan yang dijalani. Besar penggantian biaya perawatan harus disepakati oleh pemegang polis dan asuradur yang dituangkan dalam kontrak pertanggungan/jaminan/polis. Khusus untuk asuransi jiwa, besar kerugian finansial akibat kematian umumnya ditawarkan dalam jumlah tertentu, mengingat kesulitan mengukur besar kerugian finansial akibat suatu kematian. Jumlah tersebut ditawarkan oleh perusahaan asuransi dan disepakati oleh pemegang polis. Penentuan jumlah tertentu ini disebut quantifiable (dapat ditetapkan jumlahnya) yang dijadikan dasar perhitungan premi yang harus dibayarkan oleh pemegang polis.

6. Ukuran risiko harus besar (large).

Derajat risiko (severity) memang relatif dan dapat berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu waktu ke waktu lain. Risiko yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi hendaknya memenuhi syarat ukurannya. Risiko biaya rawat inap sebesar Rp 5 juta bisa dinilai besar oleh yang berpenghasilan rendah akan tetapi dinilai kecil oleh yang berpenghasilan diatas Rp 50 juta per bulan. Sebuah sistem asuransi harus secara cermat menilai kelompok risiko yang akan diasuransikan. Kecenderungan asuransi kesehatan di dunia adalah menjamin pelayanan kesehatan secara komprehensif karena ada kaitan antara risiko dengan biaya kecil dan pelayanan yang memerlukan biaya mahal. Sebagai contoh kasus demam berdarah yang berkunjung ke dokter, mengandung risiko menjadi fatal bila pengobatan lanjutannya tidak ditanggung, karena ada kemungkinan orang tersebut tidak meneruskan pelayanannya karena kendala biaya. Jadi menjamin pelayanan kesehatan secara komprehensif merupakan kombinasi penurunan risiko (risk reduction) dan transfer risiko. Suatu skema asuransi yang hanya menanggung risiko yang kecil, misalnya hanya pengobatan di puskesmas—seperti yang dulu dipraktikkan dengan skema dana sehat atau JPKM, tidak memenuhi syarat asuransi. Oleh karena itu, dimanapun didunia, model asuransi mikro seperti itu tidak memiliki sustainabilitas (kesinambungan) jangka panjang. Umumnya skema semacam itu berusia pendek dan tidak menjadi besar. Selain persyaratan sifat atau jenis risiko diatas, ada beberapa persyaratan terkait dengan teknis asuransi dan kelayakan suatu risiko diasuransikan. Kelayakan dalam konteks ini diartikan kelayakan dalam aspek ekonomis. Suatu produk asuransi yang preminya terlalu mahal tidak bisa dijual atau tidak menarik bagi masyarakat untuk ikut asuransi tersebut. Harga premi atau besaran iuran yang menghabiskan 30% penghasilan seseorang, tidak layak untuk dikembangkan. Persyaratan teknis asuransi adalah besarnya probabilitas kejadian, besar populasi yang terkena risiko kejadian tersebut dan volume pool yang dapat dikumpulkan.

(Dikutip dari  : H. Thabrani – Introduksi Asuransi Kesehatan)

Tinggalkan komentar »

ASURANSI KESEHATAN SEBAGAI SISTEM

I. Pengertian
Yang dimaksud dengan sistem adalah kumpulan/unit/komponen yang saling berkaitan erat satu sama lain, sulit untuk dipisahkan dalam upaya mencapai satu tujuan (Hasbullah Thabrany, 1989).

II. Sistem Pelayanan Asuransi Kesehatan
Dengan pendekatan sistem, secara sederhana pelayanan asuransi terdiri dari komponen masukan, proses, keluaran dan dampak serta dipengaruhi oleh beberapa faktor.
2.1 Komponen Masukan
Komponen masukan terdiri dari :
- Peserta atau masyarakat baik perorangan ataupun keluarga
- Perusahaan asuransi yang disebut badan penyelenggara asuransi (BAPEL)
- Pemberi pelayanan kesehatan (pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan), dengan adanya perubahan paradigma ke arah paradigma sehat, maka PPK dirubah pengertiannya menjadi penyelenggara pemeliharaan kesehatan
- Pemerintah dapat berperan sebagai masukan tetapi juga sebagai faktor yang mempengaruhi, misalnya membuat peraturan dan/atau kebijakan.
2.2 Komponen Proses
Proses tergambarkan dalam studi kelayakan dan rencana usaha Bapel, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi di semua komponen asuransi yang didasarkan pada data yang akurat.
2.3 Komponen Keluaran
Keluaran dapat berupa pembayaran sebagian atau keseluruhan paket-paket pelayanan kesehatan sesuai dengan transaksi premi yang telah disetujui. Dengan adanya perubahan ke arah paradigma sehat, maka asuransi diharapkan tidak hanya berperan pada pelayanan kuratif tetapi juga pramotif, prefentif dan rehabilitatif.
2.4 Komponen Dampak
Dampak utama yang paling diharapkan adalah akses masyarakat terhadap penyelenggara kesehatan, dan pada akhirnya akan meningkatkan status/derajat kesehatan masyarakat yang ditandai : pertama, mampu hidup lebih lama dengan indikator umur harapan hidup; kedua, menikmati hidup sehat dengan indikator angka kesakitan; ketiga, mempunyai kesempatan meningkatkan pengetahuan dengan indikator angka melek huruf dan tingkat pendidikan serta keempat, hidup sejahtera dengan indikator pendapatan perkapita.
2.5 Faktor yang Mempengaruhi
Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain :
- Pemerintah yang berperan sebagai regulator dan pembuat kebijakan
- Permintaan (demand) masyarakat
- Sosio-ekonomi dan budaya masyarakat.

2 Komentar »

Peran Manajemen Dalam Pengembangan Program Promkes

PENDAHULUAN

Kesehatan ibu dan anak merupakan indikator penting dalam penyelenggaraan pembangunan di bidang kesehatan. Dalam indikator Indonesia Sehat 2010 ditegaskan bahwa indikator derajat kesehatan masyarakat meliputi ukuran-ukuran kesakitan, kematian serta status gizi yang berkaitan langsung dengan ibu dan anak sebagai bagian dari masyarakat yang tergolong kelompok rentan. Sebagai indikator terpenting dari derajat kesehatan masyarakat, kesehatan ibu dan anak memerlukan penanganan yang sangat serius, baik dari segi teknis maupun manajemen.

Salah satu upaya untuk mencapai derajat kesehatan ibu dan anak (KIA) yang optimal dilakukan melalui kegiatan promosi kesehatan. Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Dengan demikian, promosi kesehatan terkait dengan kesehatan ibu dan anak (KIA) tak lain ditujukan untuk membantu masyarakat baik kaum ibu maupun kelompok masyarakat lain yang berpengaruh langsung, untuk mengarahkan mereka pada perilaku dan gaya hidup yang mendukung kesehatan dirinya maupun kesehatan anak-anaknya.

Pentingnya upaya promosi kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan ibu dan anak secara optimal berdasar pada kenyataan bahwa masalah-masalah kesehatan ibu dan anak yang muncul, umumnya diakibatkan oleh kebiasaan, gaya hidup maupun perilaku ibu, baik semasa prakonsepsi, kehamilan, kelahiran maupun semasa pengasuhan bayi dan balita. Mulai dari keyakinan ibu terkait dengan kehamilan, kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat, konsumsi makanan yang rendah gizi, kebiasaan merokok, keengganan untuk memeriksakan diri dan atau kehamilannya, serta dukungan dari pihak keluarga (terutama suami) yang kurang dalam hal menjaga kesehatan kehamilannya. Semua hal tersebut menjadi sasaran dari upaya promosi kesehatan yang dilakukan.

Pada tingkatan yang lebih tinggi, promosi kesehatan tidak hanya ditujukan bagi peningkatan keterampilan individual dalam memelihara kesehatannya, melainkan mencakup konteks yang lebih luas dalam hal mengubah masyarakat, lingkungan, dan kondisi ekonomi, agar dampak negatif terhadap kesehatan individu dan masyarakat dapat dikurangi. Agar promosi kesehatan dapat memberikan hasil maksimal serta dapat dilakukan secara berkelanjutan, sebaiknya dilakukan melalui tahapan-tahapan yang bersifat rasional dan ilmiah, dengan menggunakan kaidah-kaidah manajemen.

LANDASAN TEORI

Pembahasan lebih lanjut mengenai peran manajemen dalam program promosi kesehatan ibu dan anak (KIA) berlandaskan pada teori-teori mengenai kedua hal tersebut. Pengetahuan berkenaan dengan teori-teori manajemen dan teori-teori yang berkenaan dengan perubahan perilaku sebagai inti dari promosi kesehatan, bertujuan untuk memandu promotor kesehatan dalam memilih dan menentukan metode yang tepat dalam melaksanakan programnya.

a.Teori Manajemen

Salah satu teori manajemen yang paling banyak digunakan dalam dunia kesehatan beberapa tahun terakhir adalah teori yang dikemukakan oleh Henry Fayol (1841-1925) dan digolongkan ke dalam classical organizational theory (teori organisasi klasik). Menurut Fayol, manajemen mempunyai 5 (lima) fungsi antara lain planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), commanding (memerintah), coordinating (pengkoordinasian), controlling (pengawasan).
Kelima fungsi manajemen yang dikemukakan oleh Fayol merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian sebuah organisasi. Jika diadaptasi kedalam kegiatan, maka rangkaian fungsi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pencapaian hasil yang optimal dari kegiatan.

Selain teori diatas, sebenarnya masih banyak teori manajemen yang sering digunakan untuk membantu proses administrasi dalam melaksanakan kegiatan, seperti teori POAC dari Terry, POSDCORBE dari Gulick maupun teori kebutuhan dari Maslow. Namun demikian untuk pembahasan ini kita menganggap teori Henry Fayol dapat mewakili teori-teori tersebut, dengan menambahkan satu fungsi lagi yakni evaluation (evaluasi).

b.Teori Perubahan Perilaku

Inti dari kegiatan promosi kesehatan adalah perubahan perilaku, karena itu untuk dapat melakukan kegiatan promosi yang optimal, perlu dipahami teori-teori perubahan perilaku yang telah banyak dirintis oleh ahli-ahli perilaku. Beberapa teori perubahan perilaku tersebut, antara lain Teori Belajar (learning theory), Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model), Teori aksi beralasan dan Teori Perilaku Terencana (Theory of Reasoned Action and Theory of Planned Behavior) dan masih banyak lagi teori yang lain.

Dalam pembahasan ini teori yang dipilih untuk mendukung pelaksanaan program adalah teori belajar (learning theory). Teori ini menekankan bahwa mempelajari sebuah pola perilaku baru yang kompleks dapat dilakukan dengan memodifikasi bagian-bagian perilaku-perilaku yang menyusun perilaku tersebut secara keseluruhan. Prinsip modifikasi perilaku adalah bahwa sebuah perilaku baru yang kompleks dapat dipelajari dengan menguraikannya kedalam perilaku-perilaku yang lebih kecil.

ARGUMENTASI DAN PEMBAHASAN

“Health promotion is the science and art of helping people change their lifestyle to move toward a state of optimal health. Optimal health is defined as a balance of physical, emotional, social, spiritual, and intellectual health. Lifestyle change can be facilitated through a combination of efforts to enhance awareness, change behavior and create environments that support good health practices. Of the three, supportive environments will probably have the greatest impact in producing lasting change”. (American Journal of Health Promotion, 1989,3,3,5)

Dari definisi tersebut diatas dapat ditarik beberapa kata kunci yang dapat membantu pemahaman mengenai peran manajemen dalam program promosi kesehatan, khususnya promosi kesehatan ibu dan anak. Pertama, promosi kesehatan adalah ilmu dan seni. Kedua, promosi kesehatan bertujuan membantu orang mengubah gaya hidup. Ketiga, promosi kesehatan bertujuan membawa orang menuju status kesehatan yang optimal.

Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui upaya untuk menggugah kesadaran, mengubah perilaku serta menciptakan lingkungan yang mendukung perilaku sehat. Upaya fasilitasi tersebut dapat berlangsung secara efektif jika didukung oleh metode komunikasi yang tepat. Komunikasi merupakan kegiatan pokok dalam program promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan.

Proses komunikasi, adalah proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan berupa isi ajaran yang ada dalam kurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan ataupun tertulis) maupun simbol non-verbal atau visual. Proses penuangan pesan ke dalam simbol-simbol komunikasi itu disebut encoding. Sedangkan proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut disebut decoding. Decoding merupakan proses pengolahan informasi yang meliputi sensasi, persepsi, memori dan berpikir. Ibu dan masyarakat sekelilingnya sebagai sasaran program kesehatan ibu dan anak (KIA), sekaligus merupakan penerima pesan dalam proses komunikasi yang kita lakukan.

Dengan melakukan melakukan komunikasi yang efektif diharapkan terjadi kesadaran pada diri penerima pesan yang untuk selanjutnya menjadi awal dari perubahan perilaku. Perubahan perilaku dapat terjadi jika kita melakukan komunikasi secara tepat, dan untuk melakukannya kita harus memahami bagaimana timbulnya perilaku tersebut serta kemungkinannya untuk berubah.
Ketepatan dalam melakukan komunikasi juga ditentukan oleh kepiawaian promotor kesehatan untuk menerapkan teori-teori perubahan perilaku. Pengetahuan tentang teori perubahan perilaku akan memandu seorang promotor kesehatan memilih dan menentukan apa yang akan dilaksanakan, bagaimana melaksanakannya serta siapa sasarannya. Selain itu teori perubahan perilaku akan membantu promotor kesehatan untuk menentukan perilaku baru yang akan diajarkan serta perilaku sasaran yang akan diitervensi terlebih dahulu.

Rumitnya pelaksanaan kegiatan ini akan terbantu jika kita menggunakan dukungan manajemen yang baik. Secara umum pelaksanaan program harus dikelola sedemikian rupa, sehingga langkah-langkah pelaksanaannya lebih teratur dan lebih mudah diukur keberhasilannya. Tahapan-tahapan manajemen yang lazimnya digunakan adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi (POACE).

Dalam program promosi kesehatan ibu dan anak (KIA) penerapan fungsi-fungsi manajemen dapat dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pencapaian tujuan atau perilaku baru yang diharapkan. Pada tahap perencanaan ditentukan perilaku apa yang diinginkan oleh promotor, bagaimana melakukannya, dimana akan dilaksanakan serta berapa besar biaya yang diperlukan. Pada tahap pengorganisasian ditentukan siapa-siapa yang akan terlibat dan sejauh mana keterlibatan mereka. Pada tahap pelaksanaan dan pengawasan, promotor kesehatan akan memberikan penilaian sementara terhadap proses yang berjalan dan segera memperbaikinya jika dianggap ada kesalahan yang dapat mengganggu optimalisasi pencapaian tujuan. Sedangkan pada tahap evaluasi promotor kesehatan serta pihak lain yang terlibat secara langsung, melakukan pengukuran seberapa besar tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai.

HAMBATAN-HAMBATAN

Masalah yang paling lazim terjadi ketika dilakukan penerapan manajemen dalam pengembangan program kesehatan ibu dan anak (KIA) adalah kemampuan dari para promotor yang terlibat untuk menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara konsisten ke dalam keseluruhan proses. Selain itu kemampuan sasaran yang rendah dalam menangkap pesan yang dikirimkan pada proses komunikasi akan menghambat pelaksanaan program dari tahap yang satu ke tahap selanjutnya.

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Untuk mengantisipasi dua hambatan utama tersebut dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :

  • Galang komitmen diantara pelaksana program untuk konsisten menerapkan fungsi-fungsi manajemen namun tetap tetap menjaga fleksibilitasnya.
  • Pilih metode dan saluran komunikasi yang tepat dan dianggap dapat menjangkau sasaran secara efektif.

Bahan Bacaan :

1.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

2.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

3.Siswanto, Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol.09 Hal. 168-176 Nomor 04 Desember 2006.

4.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

5.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

1 Komentar »

peranan analisis komunitas dalam penetapan masalah dan tujuan promkes

PENDAHULUAN

Promosi Kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Kesehatan optimal didefinisikan sebagai keseimbangan dari kesehatan fisik, emosional, sosial, spiritual dan intelektual. Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui kombinasi upaya untuk meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku dan menciptakan lingkungan yang mendukung praktek kesehatan yang baik. Dari ketiga hal tersebut, dukungan lingkungan akan memberikan kemungkinan dampak terbesar dalam menghasilkan perubahan pada akhirnya. ( Terjemahan : American Journal of Health Promotion, 1989, 3, 3, 5)

Perubahan gaya hidup yang dimaksud dalam definisi tersebut di atas, merupakan produk simultan dari perubahan perilaku yang didasari oleh peningkatan kesadaran dan pembentukan lingkungan yang kondusif bagi perilaku sehat. Semua upaya tersebut memerlukan bantuan promotor kesehatan yang memulai kegiatannya dengan melakukan analisis terhadap komunitas. Dengan melakukan analisis komunitas, promotor kesehatan dapat menentukan bentuk perilaku baru yang diharapkan akan diadopsi oleh masyarakat. Tingkat keberhasilan masyarakat dalam mengadopsi perilaku baru yang ditawarkan bergantung pada metode komunikasi yang digunakan, dan metode komunikasi tersebut dapat dipilih secara tepat, juga atas hasil analisis komunitas. Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa analisis komunitas merupakan kegiatan yang menjadi sumber berbagai informasi yang diperlukan dalam menentukan langkah kegiatan selanjutnya.

Sebuah program promosi kesehatan akan memberikan hasil yang optimal jika dilaksanakan sesuai kebutuhan masyarakat. Pernyataan masyarakat akan kebutuhan-kebutuhannya tidak dapat diharapkan dalam bentuk verbal, karena seringkali menjadi rancu akibat tipisnya perbedaan antara kebutuhan tersebut dengan ‘keinginan’ masyarakat. Karena itu kebutuhan masyarakat harus dijajaki melalui karakteristik-karakteristik yang diperlihatkan oleh keadaan masyarakat baik yang bersifat statis maupun yang dinamis. Karakteristik statis dari masyarakat, dalam konteks kebutuhan untuk promosi kesehatan, dapat berupa pengelompokan atas dasar batas spasial dan batas politik administratif, sedangkan karakteristik dinamis, dalam konteks yang sama, dapat berupa agregasi-agregasi sosial yang umumnya didominasi oleh kepentingan-kepentingan.

KONSEP ANALISIS KOMUNITAS

Pada tingkatan yang lebih tinggi, promosi kesehatan tidak hanya ditujukan bagi peningkatan keterampilan individual dalam memelihara kesehatannya, melainkan mencakup konteks yang lebih luas dalam hal mengubah masyarakat, lingkungan, dan kondisi ekonomi, agar dampak negatif terhadap kesehatan individu dan masyarakat dapat dikurangi. Dalam pemahaman seperti itu maka untuk mengetahui dan memahami secara mendalam tentang apa yang membuat masyarakat berfungsi atau tidak berfungsi secara efektif dalam memperbaiki kesehatannya, perlu dilakukan suatu analisis komprehensif terhadap komunitas. Dasar dari analisis komunitas adalah pengetahuan tentang definisi dan pengenalan terhadap batas-batas fungsional suatu masyarakat.

Secara struktural, masyarakat adalah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang terorganisir oleh batas spasial maupun politik. Pembatasan-pembatasan ini juga ikut diwarnai oleh kebiasaan-kebiasaan yang dianut secara dominan oleh kelompok masyarakat yang hidup pada wilayah geografi tertentu dan pada gilirannya membawa konsekuensi kekhasan yang berbeda dengan kelompok lainnya. Pada sisi lain, sebuah komunitas juga diwarnai oleh fungsi-fungsi agregasi non-geografis seperti pekerjaan, agama, kepentingan khusus atau perwujudan kebutuhan bersama, atas dukungan sumberdaya yang juga dimiliki secara bersama-sama.

Dalam merencanakan program promosi kesehatan, unsur terpenting adalah identifikasi masalah dan penetapan tujuan. Tujuan sebuah program dapat ditetapkan jika promotor kesehatan telah mampu mengenali masalah-masalah yang ada dalam masyarakat serta mengidentifikasinya ke dalam masalah kesehatan. Masalah-masalah tersebut dapat dikenali dan diidentifikasi jika analisis komunitas dilakukan secara komprehensif sesuai dengan kaidah-kaidah yang lazim dilakukan.

Dengan menelaah uraian-uraian di atas, dapat terlihat bagaimana analisis komunitas berperan dalam mengidentifikasi masalah serta menentukan tujuan. Analisis komunitas dapat berarti menelaah berbagai aspek baik berupa unsur-unsur internal yang melekat secara khas dalam kehidupan masyarakat, maupun unsur-unsur eksternal yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan kehidupan masyarakat secara umum.

Beberapa aspek yang menjadi sasaran dalam melakukan analisis komunitas, antara lain identifikasi anggota masyarakat, batas-batas geografis, kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan, aspirasi-aspirasi, motivasi-motivasi para anggotanya dan atau efektifitas sistem pelayanan kesehatan yang tersedia.

Secara lebih rinci tahapan-tahapan dalam melakukan analisis komunitas adalah mengumpulkan informasi, mendefinisikan batas-batas, mendefinisikan latar belakang, menganalisis status kesehatan masyarakat termasuk analisis terhadap sistem perawatan kesehatan dan potensi keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.

Pada tahap selanjutnya dilakukan diagnosis masyarakat untuk menentukan kondisi kesehatan masyarakat, menentukan pola pelayanan kesehatan di masyarakat, menentukan hubungan antara status kesehatan dan pelayanan/perawatan kesehatan serta mengidentifikasi dan menentukan determinan-determinan dari problem utama yang berkaitan dengan kebutuhan dan sumberdaya kesehatan dalam masyarakat bersangkutan.

ARGUMENTASI PENDUKUNG

Titik berat dari pembahasan ini adalah bagaimana melihat peranan analisis komunitas terhadap proses identifikasi masalah serta penentuan tujuan dari program promosi kesehatan. Untuk lebih memudahkan dalam memberikan argumentasi pendukung terhadap uraian sebelumnya, kita mengambil contoh Program Promosi Kesehatan di Kota Parepare.

Untuk dapat mengidentifikasi masalah kesehatan yang akan dipromosikan di Kota Parepare, maka hal yang paling awal harus dilakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat baik secara langsung maupun melalui telaah terhadap data-data pelayanan kesehatan yang telah ada. Proses pencarian informasi dari masyarakat yang kemudian dikomparasi dengan data-data pelayanan kesehatan memperlihatkan adanya ‘gap’ antara pertolongan persalinan tenaga kesehatan (PN) yang prosentasenya cukup tinggi 94,65% dengan kenyataan masih terjadinya kematian ibu melahirkan (MMR) 118/100.000 KH dan kematian neonatal (IMR) 2/1000 KH dan balita (U5MR) 0,2/1000 KH. Data ini menggambarkan adanya masalah dalam hal kesehatan ibu dan anak. Sekalipun secara absolut angka-angka kematian ini cukup rendah dibanding angka nasional, tapi dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang relatif kecil serta sarana-prasarana pelayanan kesehatan yang memadai, seharusnya tidak ada lagi kematian ibu dan bayi.

Dengan melakukan tela’ah terhadap berbagai aspek dalam kerangka analisis komunitas, ditemukan bahwa terdapat perilaku yang kurang mendukung terhadap pemeliharaan kesehatan ibu baik semasa kehamilan maupun menyusui serta rendahnya status gizi ibu, bayi dan balita. Perilaku tidak kondusif yang ditemukan adalah rendahnya cakupan K1 dan K4. Dari sebanyak 2.490 ibu hamil jumlah yang melakukan kunjungan K-4 pada antenatal care dan mendapatkan pelayanan ANC yang lengkap hanya 1.908. Angka ini belum mencapai target 2008 yang dicanangkan sebesar 88%.

Data status gizi bayi dan balita tahun 2004 menunjukkan status kurang gizi sebanyak 61 orang (1,37%). Jumlah anak yang BGM sebanyak 74 anak (1,67 %) dan jumlah anak yang BGT sebanyak 73 anak (1,10 %). Pada tahun 2005 jumlah BGM meningkat menjadi 102 dan BGT menjadi 210 anak. Anak balita KEP nyata sebanyak 44 anak (0,10 %) dari 4.438 jumlah balita yang ditimbang di posyandu. Untuk tahun 2006, balita dengan status gizi buruk sebanyak 10.9/1000 balita, sedangkan gizi kurang 33.6 /1000 balita.

Dari hasil pengumpulan informasi serta penelaahan data pelayanan kesehatan dapat terlihat masalah yang memerlukan penanganan segera, dan dengan sendirinya dapat ditentukan tujuan yang ingin dicapai dalam program promosi kesehatan. Sangat sulit jika secara tiba-tiba tujuan ditetapkan tanpa melakukan analisis. Jika identifikasi tidak tepat mungkin saja yang dianggap masalah adalah kesehatan ibu dan anak secara umum, dan jika demikian maka sudah pasti penetapan tujuan program melenceng dari sasaran. Misalnya, karena masalah yang terlihat adalah kesehatan ibu dan anak, maka diidentifikasi masalah yang akan diitervensi adalah persalinan tenaga kesehatan (PN), kekeliruan ini akan berlanjut pada penentuan tujuan program karena sasaran juga telah meleset. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa analisis komunitas dapat membantu promotor kesehatan untuk mempertajam identifikasi masalah serta penetapan tujuan.

KELEMAHAN-KELEMAHAN

Melakukan identifikasi masalah dan menetapkan tujuan dengan bantuan analisis komunitas, tentunya tetap mempunyai kelemahan disamping kelebihan-kelebihan. Kelemahan yang paling mudah terbaca terletak pada kerumitan dalam melakukan analisis terhadap berbagai aspek komunitas. Kerumitan ini menuntut kejelian dan kehandalan kemampuan dari seorang perencana program (promotor kesehatan). Banyaknya aspek yang harus dianalisis bisa saja mengundang kekeliruan dalam memahami masalah yang harus diidentifikasi.

SOLUSI MENGATASI HAMBATAN

Kelemahan di atas merupakan hambatan yang akan mengganggu proses perencanaan program promosi, karena itu harus diatasi dengan melakukan fokus sejak awal terhadap aspek-aspek tertentu. Obyek analisis harus dilokalisir sedemikian rupa sehingga identifikasi masalah dapat dilakukan secara lebih tajam. Sedangkan dari sisi promotor kesehatan, harus ‘berlatih’ untuk melakukan analisis yang cermat dalam melakukan identifikasi serta piawai dalam menetapkan tujuan yang akan dicapai.

Bahan Bacaan :

1.Thaha, Ridwan M. Bahan Kuliah Manajemen Program Promosi, Program Pascasarjana Promkes Univ. Hasanuddin Makassar. 2008

2.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

3.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

4.Siswanto, Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol.09 Hal. 168-176 Nomor 04 Desember 2006.

5.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

6.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

Tinggalkan komentar »

penetapan output program promkes

PENDAHULUAN

Kesehatan ibu dan anak merupakan indikator penting dalam penyelenggaraan pembangunan di bidang kesehatan. Dalam indikator Indonesia Sehat 2010 ditegaskan bahwa indikator derajat kesehatan masyarakat meliputi ukuran-ukuran kesakitan, kematian serta status gizi yang berkaitan langsung dengan ibu dan anak sebagai bagian dari masyarakat yang tergolong kelompok rentan. Sebagai indikator terpenting dari derajat kesehatan masyarakat, kesehatan ibu dan anak memerlukan penanganan yang sangat serius, baik dari segi teknis maupun manajemen.

Salah satu upaya untuk mencapai derajat kesehatan ibu dan anak (KIA) yang optimal dilakukan melalui kegiatan promosi kesehatan. Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Dengan demikian, promosi kesehatan terkait dengan kesehatan ibu dan anak (KIA) tak lain ditujukan untuk membantu masyarakat baik kaum ibu maupun kelompok masyarakat lain yang berpengaruh langsung, untuk mengarahkan mereka pada perilaku dan gaya hidup yang mendukung kesehatan dirinya maupun kesehatan anak-anaknya.

Promosi Kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup mereka menuju status kesehatan yang optimal. Kesehatan optimal didefinisikan sebagai keseimbangan dari kesehatan fisik, emosional, sosial, spiritual dan intelektual. Perubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui kombinasi upaya untuk meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku dan menciptakan lingkungan yang mendukung praktek kesehatan yang baik. Dari ketiga hal tersebut, dukungan lingkungan akan memberikan kemungkinan dampak terbesar dalam menghasilkan perubahan pada akhirnya. ( Terjemahan : American Journal of Health Promotion, 1989,3,3,5)

Perubahan gaya hidup yang dimaksud dalam definisi tersebut di atas, merupakan produk simultan dari perubahan perilaku yang didasari oleh peningkatan kesadaran dan pembentukan lingkungan yang kondusif bagi perilaku sehat. Semua upaya tersebut memerlukan bantuan promotor kesehatan yang memulai kegiatannya dengan melakukan analisis terhadap komunitas. Dengan melakukan analisis komunitas, promotor kesehatan dapat menentukan bentuk perilaku baru yang diharapkan akan diadopsi oleh masyarakat. Tingkat keberhasilan masyarakat dalam mengadopsi perilaku baru yang ditawarkan bergantung pada metode komunikasi yang digunakan, dan metode komunikasi tersebut dapat dipilih secara tepat, juga atas hasil analisis komunitas. Dari perspektif ini, dapat dikatakan bahwa analisis komunitas merupakan kegiatan yang menjadi sumber berbagai informasi yang diperlukan dalam menentukan langkah kegiatan selanjutnya.

TUJUAN, SASARAN DAN OUTPUT

Setelah analisis dan diagnosis masalah dilakukan, hasilnya kemudian dijadikan dasar dalam menentukan tujuan, sasaran serta output yang diharapkan.

Tujuan

Program ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan lengkap ibu hamil pada sarana pelayanan kesehatan.

Sasaran

Sasaran program adalah ibu hamil, petugas kesehatan dan tokoh kunci yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap keputusan ibu hamil untuk memeriksakan diri.

Output

Output yang diharapkan adalah menurunnya atau tidak terjadinya kematian ibu hamil, ibu melahirkan, bayi dan balita di Kota Parepare.

ARGUMENTASI

Output yang diharapkan diyakini dapat dicapai, disamping karena sasaran yang akan menjadi obyek intervensi sudah jelas, sarana dan prasarana yang dapat mendukung pelaksanaan program sudah sangat memadai. Pencapaian tujuan untuk menghasilkan output, bergantung pada kemampuan petugas kesehatan untuk memanfaatkan peluang yang tersedia. Jika promotor kesehatan mampu memanfaatkan segala sumberdaya yang ada maka sasaran akan mudah didekati, tujuan dapat dicapai dan pada akhirnya ouput yang diharapkan akan terjadi.

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG

Faktor-faktor yang mendukung besarnya peluang untuk menghasilkan output yang diharapkan, antara lain karena faktor-faktor determinan lainnya tidak terlalu membutuhkan intervensi yang terlalu besar, sehingga promotor kesehatan dapat berkonsentrasi untuk memusatkan perhatian pada masalah utama.

Bahan Bacaan :

1.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

2.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

3.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

4.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

5.Green, Lawrence & Kreuter, Marshall W, Health Promotion Planning, An Educational and Environtmental Approach, Second Edition, Mayfield Publishing Company. 1991

Tinggalkan komentar »

penentuan topik program promkes

PENDAHULUAN

Promosi kesehatan pada hakekatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut maka masyarakat, individu atau kelompok dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku kesehatan dari sasaran. Dewasa ini, sejalan dengan perkembangan dan semakin kompleksnya masalah kesehatan, maka promosi kesehatan tidak hanya sekedar komunikasi dalam arti pertukaran informasi saja. Promosi kesehatan telah menjadi suatu proses yang melibatkan aktifitas dan perubahan berbagai unsur dalam masyarakat menuju status kesehatan yang optimal.

Perencanaan promosi kesehatan adalah suatu proses diagnosis penyebab masalah, penetapan prioritas masalah dan alokasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan. Setelah melakukan analisis komunitas yang dilanjutkan dengan diagnosa komunitas, akan teridentifikasi masalah-masalah yang terjadi di dalam masyarakat. Sesaat sebelum menetapkan tujuan program, terlebih dahulu dilakukan penentuan fokus program. Sebagaimana halnya dengan tahapan lain dalam perencanaan program promosi, penentuan fokus program bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain harus didahului oleh analisa yang tajam serta kejelian dalam melakukan diagnosa, penentuan fokus program juga tergantung pada beberapa aspek seperti ketersediaan sumber daya, potensi hambatan serta potensi keberhasilannya.

Fokus program adalah proses penentuan titik sasaran yang akan diintervensi. Dalam proses ini diperlukan kecermatan dan penggunaan metode yang tepat untuk mengeliminasi kemungkinan-kemungkinan masalah lainnya yang dapat menjadi fokus program. Selain itu dilakukan perhitungan-perhitungan matematis terhadap ketersediaan sumber daya manusia, pembiayaan serta alokasi waktu yang harus disediakan. Juga harus dihitung kemungkinan besarnya dampak yang akan ditimbulkan jika perilaku baru yang kita tawarkan diadopsi oleh sasaran.

PENENTUAN FOKUS PROGRAM

Secara operasional, memilih fokus program berarti memilih sasaran kegiatan dari sekian banyak kemungkinan kegiatan yang dapat dilakukan. Pada tahapan ini pengetahuan, keterampilan serta kematangan dari seorang promotor kesehatan memerlukan pembuktian. Hal ini disebabkan karena kekeliruan dalam menentukan fokus program akan memberikan konsekuensi secara prospektif maupun retrospektif. Yang dimaksud konsekuensi prospektif adalah terjadinya kerugian material dan non-material akibat pelaksanaan program yang tidak tepat, dengan kata lain fokus program yang dipilih bukanlah program yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan. Sedangkan konsekuensi retrospektif adalah kerugian waktu dan sedikit kerugian materi akibat kesalahan menerjemahkan hasil analisis dan diagnosa masyarakat sebelumnya, padahal kunci keberhasilan pelaksanaan program promosi salah satunya adalah analisis dan diagnosis masyarakat.

Menentukan fokus program dalam perspektif promosi kesehatan sebagai suatu proses, harus melibatkan berbagai unsur yang mempunyai keterkaitan langsung dengan kegiatan yang direncanakan. Perencana harus terdiri masyarakat, profesional kesehatan, promotor kesehatan serta stake holder yang berperan sebagai penentu kebijakan. Kelompok ini harus bekerja bersama-sama dalam proses perencanaan promosi kesehatan, sehingga dihasilkan program yang sesuai, efektif dalam biaya dan berkesinambungan dalam pelaksanaan. Pelibatan orang-orang terkait akan menciptakan rasa memiliki sehingga menimbulkan rasa tanggung jawab dan komitmen.
Penentuan fokus program tidak hanya melibatkan orang, tapi juga melibatkan metode, teknik dan strategi.

Berbagai ahli telah memperkenalkan teori-teori dan model-model yang dapat digunakan untuk membantu seorang perencana mengambil keputusan dalam penentuan fokus.

Contoh kasus yang dipilih adalah masalah kesehatan yang terjadi di Kota Parepare. Proses penentuan fokus kegiatan mengikuti kaidah-kaidah analisis komunitas yang diakhiri dengan diagnosis komunitas. Hasil analisis yang didapatkan diterjemahkan secara spesifik untuk menemukan isu-isu utama dalam masyarakat. Isu-isu utama kemudian diverifikasi kepada stakeholder dan key informan yang bersifat independen. Pada contoh kasus yang diambil, tidak lagi dilakukan verifikasi lanjutan dalam bentuk ‘forum khusus’ karena hampir tidak ditemukan perbedaan berarti antara informasi kelompok target dengan informan kunci. Uraian masalah yang menjadi bahan analisis dapat dikemukakan secara ringkas sebagai berikut ini.


Derajat kesehatan masyarakat berhubungan erat dengan kondisi pembangunan nasional khususnya pembangunan sosial ekonomi. Namun diharapkan ada perhatian khusus tentang penduduk yang rentan seperti ibu, anak, usia produktif dan lansia. Apalagi kondisi kesehatan di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Keprihatinan ini ditunjukkan oleh masih tingginya angka kematian ibu yaitu 390 dari 100.000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi tiga sampai enam kali angka kematian ibu di negara-negara ASEAN. Sementara angka kematian bayi adalah 41 dari 1000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi dari Singapura 4 dari 1000 kelahiran hidup dan Malaysia 12 dari 1000 kelahiran hidup.

Sebagaimana halnya dengan sebagian besar daerah lain di Indonesia, di Kota Parepare kesehatan ibu dan anak masih menjadi fokus perhatian. Sekalipun angka kasusnya secara absolut kelihatan kecil, tapi dengan karakteristik daerah perkotaan yang dimiliki, luas wilayah yang tidak terlalu besar serta kepadatan komunitas yang tidak terlalu tinggi seharusnya masalah ini lebih mudah diatasi. Derajat kesehatan masyarakat berhubungan erat dengan kondisi pembangunan nasional khususnya pembangunan sosial ekonomi. Namun diharapkan ada perhatian khusus tentang penduduk yang rentan seperti ibu, anak, usia produktif dan lansia. Apalagi kondisi kesehatan di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Keprihatinan ini ditunjukkan oleh masih tingginya angka kematian ibu yaitu 390 dari 100.000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi tiga sampai enam kali angka kematian ibu di negara-negara ASEAN. Sementara angka kematian bayi adalah 41 dari 1000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi dari Singapura 4 dari 1000 kelahiran hidup dan Malaysia 12 dari 1000 kelahiran hidup.
Luas wilayah Kota Parepare tercatat 99,33 Km2, meliputi 3 (tiga) kecamatan dan 21 kelurahan yaitu Kecamatan Bacukiki (9 Kelurahan), Kecamatan Soreang (7 Kelurahan) dan Kecamatan Ujung (5 Kelurahan). Diantara ketiga kecamatan tersebut Kecamatan Bacukiki merupakan kecamatan terluas dengan luas sekitar 79,90 KM2 atau sekitar 80,24% luas Kota Parepare.

Pada tahun 2006 Jumlah penduduk Parepare berjumlah 118.266 jiwa. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki yaitu 58.423 jiwa laki-laki dan 59.843 jiwa perempuan dengan proporsi jenis kelamin kurang dari 100. Balita (0 – 4 Tahun) dengan proporsi 9,6%. Kelompok usia produktif ( 15 – 59 Tahun ) dengan proporsi 61,8%, sisanya adanya kelompok usia lanjut ( > 60 tahun ) dengan Proporsi 6,7%.

Pada umumnya penduduk di Kota Parepare bekerja pada sektor perdagangan (32.55%), sektor jasa (25.56%) sektor koperasi dan angkutan (15.87%) serta pertanian dan Nelayan (10.30%). Penduduk yang bekerja di bidang perdagangan, jasa dan nelayan terkonsentrasi di Kelurahan Lakessi, Kelurahan Labukkang, dan Kelurahan Ujung Sabbang sedangkan sektor pertanian terkonsentrasi di Kelurahan Watang Bacukiki, Kelurahan Lemoe, dan Kelurahan Lompoe.

Jumlah Kepala keluarga sebanyak 23.267 dan sebanyak 4.909 (21,09%) merupakan keluarga miskin. Tersebar hampir merata di 3 kecamatan, dan yang terbanyak berada di wilayah kecamatan Bacukiki. Bila dibandingkan dengan data tahun 2004 dengan jumlah KK miskin 4.501, maka tampak adanya peningkatan jumlah keluarga miskin dalam 2 tahun terakhir sebesar 9.06% tentunya perlu perhatian yang lebih khusus guna memberikan jaminan pelayanan kesehatan bagi kelompok rawan tersebut. Secara lebih khusus, prosentase penduduk dengan KK miskin terbesar adalah dalam wilayah kerja Puskesmas Lompoe yaitu diatas 30%, yang meliputi Kelurahan Watang Bacukiki, Kelurahan Lemoe dan Kelurahan Lompoe.

Berdasarkan data yang dilaporkan di Kota Parepare, Infant Mortality Rate (IMR) tahun 2005 adalah sebesar 11,56/1000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2006 terdapat 5 kematian bayi dari 2.513 kelahiran hidup, angka konversi IMR sebesar 2 per 1.000 kelahiran hidup, angka tersebut telah sangat rendah bila dibandingkan dengan IMR Nasional (Hasil Surkesnas 2001: 50/1.000 kelahiran hidup), namun demikian banyak kalangan praktisi dan pemerhati pelayanan kesehatan masyarakat di Kota Parepare meragukan angka tersebut. Hasil validasi dan koordinasi data telah memberikan kepastian angka, terkecuali bila ada kehilangan data lapangan. Jumlah kasus lahir mati yang cukup tinggi yakni 13.37 per seribu kelahiran, memerlukan perhatian karena kasus ini sebenarnya menggambarkan mutu dan kualitas layanan kesehatan.

Angka kematian ibu (MMR) menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, serta pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas. Angka kematian ibu (MMR) untuk Kota Parepare tahun 2004 sebanyak 109/100.000 kelahiran hidup dan meningkat pada tahun 2005 sebanyak 115/100.000 kelahiran hidup.

Sementara itu kematian ibu melahirkan di Kota parepare Tahun 2006 sebanyak 3 dari 2.542 kelahiran, hasil konversi MMR : 118/100.000 kelahiran hidup. Jumlah ini lebih tinggi bila dibandingkan tahun 2005 sebesar : 115/100.000 kelahiran hidup. Namun demikian data ini merupakan data berbasis sarana, sehingga dikhawatirkan adanya angka yang lebih besar di masyarakat yang tidak terlaporkan. Tidak terdapat perbedaan angka kematian ibu yang cukup berarti antara wilayah kecamatan. Kasus kematian ibu melahirkan terdapat di Puskesmas Cempae, Puskesmas Lapadde dan Puskesmas Lompoe.

Angka kematian maternal banyak diragukan tingkat akurasi datanya lapangan, mengingat angka tersebut telah cukup rendah bila dibandingkan dengan angka nasional, sedangkan penampilan pelayanan kesehatan yang merujuk pada Indikator Proses (K4) belum sepenuhnya memuaskan.Sebagaimana halnya dengan sebagian besar daerah lain di Indonesia, di Kota Parepare kesehatan ibu dan anak masih menjadi fokus perhatian. Sekalipun angka kasusnya secara absolut kelihatan kecil, tapi dengan karakteristik daerah perkotaan yang dimiliki, luas wilayah yang tidak terlalu besar serta kepadatan komunitas yang tidak terlalu tinggi seharusnya masalah ini lebih mudah diatasi.


Berdasarkan uraian hasil analisis di atas, masalah yang diidentifikasi adalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Masalah kesehatan ibu dan anak adalah masalah yang sangat kompleks. Di dalamnya tercakup masalah-masalah teknis yang sifatnya urgen dan membutuhkan penyelesaian secara tuntas. Masalah kesehatan ibu dan anak secara komprehensif dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari konsistensi kunjungan K1, K4, antisipasi ibu terhadap komplikasi kehamilan, prosentase persalinan oleh tenaga kesehatan (persalinan nakes), sampai pada kebiasaan konsumsi makanan dan minuman ibu yang menentukan status gizi dan sebagainya.

Berdasarkan analisis yang kontinyu diputuskan faktor yang menjadi fokus pada masalah komprehensif tersebut. Terlihat bahwa masih terjadi kematian ibu, bayi dan balita padahal persalinan nakes mencapai prosentase yang sangat tinggi dibanding angka rata-rata nasional. Prosentase ibu yang masih menggunakan jasa dukun terlihat sangat kecil serta sarana dan prasarana yang sudah sangat memadai.

Melalui analisis secara lebih mendalam ditemukan kemungkinan bahwa yang masih menjadi masalah adalah kunjungan ibu hamil ke sarana kesehatan yang cakupannya masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh angka cakupan K4 yang belum mencapai target yang ditetapkan. Karena fokus program yang dipilih adalah peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil ke sarana pelayanan kesehatan.
Alasan memilih fokus program ini antara lain masih seringnya masyarakat mengabaikan kunjungan pemeriksaan kehamilan ke sarana pelayanan kesehatan. Ada kebiasaan dimana pada saat pemeriksaan pertama dan juga pada saat kelahiran melibatkan tenaga kesehatan, tapi kunjungan pemeriksaan K4 sering diabaikan bahkan pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi kehamilan akibat aktifitas ibu dan rendahnya asupan gizi tidak menjadi perhatian utama ibu hamil.

KELEMAHAN

Pemilihan kunjungan K4 sebagai fokus program pada masalah kesehatan ibu dan anak (KIA) bukannya tidak mempunyai kelemahan. Sebagaimana lazimnya masyarakat yang masih kental dengan kepercayaan tradisional, biasanya pemeriksaan oleh tenaga kesehatan hanya dilakukan pada saat mengetahui kehamilan untuk pertama kalinya dan pada saat meminta pertolongan persalinan. Sementara pelibatan tenaga kesehatan pada sepanjang masa kehamilan sampai masa-masa akhir menjelang persalinan masih melibatkan upaya yang bersifat tradisional dengan anggapan merupakan upaya alternatif. Dalam hal ini promotor kesehatan masih terkendala oleh nilai-nilai tradisional yang dianut oleh masyarakat.

ALTERNATIF SOLUSI

Untuk mengatasi kelemahan di atas, yang perlu dilakukan oleh promotor kesehatan adalah pendekatan persuasif ke dalam kelompok masyarakat sasaran dengan menggunakan bantuan tokoh kunci (key person) yang bisa saja terdiri dari tokoh agama atau tokoh adat. Dapat juga dilakukan kerjasama dengan pihak terkait untuk melatih dukun untuk menjadi partner dari petugas kesehatan.

Bahan Bacaan :

1.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

2.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

3.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

4.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

5.Green, Lawrence & Kreuter, Marshall W, Health Promotion Planning, An Educational and Environtmental Approach, Second Edition, Mayfield Publishing Company. 1991

Tinggalkan komentar »

kerangka teoritis pengembangan topik program promkes

PENDAHULUAN

Penentuan sebuah topik untuk kemudian menjadi fokus program harus didukung oleh teori dan konsep yang dapat mengakomodir permasalahan yang ditemukan. Pentingnya landasan teori dan konsep untuk mendukung pemahaman kita terhadap masalah yang dianalisis, akan memberikan arahan agar pengambilan keputusan untuk menentukan fokus program tidak keluar dari jalur dan kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah-kaidah ilmiah ini merupakan hasil kajian dari berbagai ahli yang sangat kompeten dalam bidangnya, sehingga tidak diragukan kemampuannya untuk mendukung pengambilan keputusan.

Ilmu kesehatan terus berkembang, dan dalam perkembangannya para ahli membuat kajian yang mengelompokkan kesehatan menjadi dua, yakni kesehatan individu dan kesehatan agregat (kumpulan individu) atau kesehatan masyarakat. Ilmu yang mempelajari masalah kesehatan individu dikenal dengan ilmu kedokteran (medicine), sedangkan ilmu yang mempelajari masalah kesehatan agregat adalah ilmu kesehatan masyarakat (public health). Pengelompokan kedua ilmu kesehatan ini ditujukan untuk memperkaya wawasan. Perbedaan keduanya dapat dengan mudah dikenali, sebagai berikut :

a.Obyek atau sasaran ilmu kedokteran adalah individual, sedangkan sasaran ilmu kesehatan masyarakat adalah publik (masyarakat).

b.Kedokteran melakukan pelayanan kuratif (penyembuhan) dan pemulihan (rehabilitatif), sedangkan kesehatan masyarakat lebih melaksanakan pelayanan pencegahan.

c.Keberhasilan pelayanan kedokteran apabila individu sembuh dan pulih kesehatannya, sedangkan keberhasilan pelayanan kesehatan masyarakat adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat.

d.Indikator pelayanan kedokteran adalah bebas dari penyakit dan tidak cacat, sedangkan indikator pelayanan kesehatan masyarakat adalah menurunnya angka kesakitan dan kematian serta meningkatnya status gizi.

Kesehatan masyarakat mempunyai mempunyai dua aspek teoritis (imu atau akademik) dan praktis (aplikatif). Kedua aspek ini mempunyai masing-masing mempunyai peran dalam kesehatan masyarakat. Dari aspek teoritis, kesehatan masyarakat perlu didasari dan didukung dengan hasil-hasil penelitian. Artinya, dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat (aplikasi) harus didasarkan pada temuan-temuan (evident based) dan hasil kajian ilmiah (penelitian). Sebaliknya kesehatan masyarakat juga harus dapat diterapkan (apllied), artinya hasil-hasil studi kesehatan masyarakat harus mempunyai manfaat bagi pengembangan program.

KERANGKA TEORITIS

Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor fisik dan psikis, sedangkan faktor eksternal terdiri dari berbagai faktor antara lain sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan baik individu, kelompok maupun masyarakat dikelompokkan menjadi 4 (empat) faktor oleh Hendrik L. Blum 1974, yang diurut berturut-turut menurut besar pengaruhnya, sebagai berikut :

a.Lingkungan

b.Perilaku

c.Pelayanan Kesehatan

d.Keturunan (Heredity)

Keempat faktor tersebut tidak hanya mempengaruhi kesehatan secara sendiri-sendiri tapi juga dapat mempengaruhi secara simultan dimana dalam pengaruhnya terhadap kesehatan, faktor-faktor ini juga saling mempengaruhi. Karena itu, dalam memelihara kesehatan dari pengaruh keempat faktor tersebut, hendaknya intervensi diarahkan kepada keempat-empatnya.

Pada masalah kesehatan ibu dan anak (KIA) faktor yang diintervensi tidak terletak pada faktor pelayanan kesehatan dan perilaku saja. Faktor-faktor lainnya juga turut diintervensi dengan skala yang disesuaikan dengan kebutuhan. Hanya saja dalam pembahasan ini kita mengacu pada konteks promosi kesehatan yang lebih menitik beratkan pada upaya perubahan perilaku.

ARGUMENTASI PENDUKUNG

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa fokus program yang dipilih adalah kesehatan ibu dan anak khususnya dalam hal kunjungan ibu hamil pada sarana pelayanan kesehatan (k4). Dilihat dari konsep Blum maka intervensi dilakukan terhadap faktor perilaku, karena yang diharapkan adalah adanya perilaku baru yang lebih kondusif bagi ibu hamil untuk menjaga kesehatan dirinya dan kehamilannya, memelihara kesehatan bayi dan balita serta memenuhi kecukupan gizi mereka.

Namun demikian, tidak berarti bahwa faktor-faktor lainnya diabaikan. Faktor-faktor lain juga menjadi sasaran intrvensi dengan skala yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pelayanan kesehatan juga akan diintervensi melalui peningkatan kemampuan dan kinerja petugas serta pemenuhan kebutuhan sarana prasarana. Lingkunganpun harus diitervensi untuk menjaga kemungkinan pengaruhnya terhadap hygiene dan sanitasi masyarakat yang turut mempengaruhi kesehatan ibu dan anak. Untuk itu dalam melaksanakan program ini harus dilakukan kerjasama dengan pihak terkait.

HAMBATAN-HAMBATAN

Hambatan utama yang diperkirakan akan muncul adalah kekaburan terhadap sasaran yang harus diitervensi. Ketika telah ditentukan bahwa masalahnya terletak pada perilaku, maka intervensi utama yang harus dilakukan adalah perubahan perilaku. Adanya pengaruh faktor lain tidak boleh memalingkan promotor kesehatan dari isu utama. Intervensi terhadap faktor lainnya harus disesuaikan dengan skala kebutuhan serta dilakukan kerjasama dengan pelaksanaan program atau kegiatan lainnya.

PEMECAHAN MASALAH

Pemecahan masalah yang mungkin dilakukan adalah menggalang komitmen diantara para pelaksana program untuk secara bersama-sama mengamati suatu permasalahan secara komprehensif. Kerjasama ini sangat penting untuk menjaga agar program mencapai hasil yang maksimal dan juga dilaksanakan secara efisien dan efektif.

Bahan Bacaan :

1.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta 2005

2.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home. American Journal of Health Promotion.

3.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home, American Journal of Health Promotion.

4.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier Australia, 2003

5.Green, Lawrence & Kreuter, Marshall W, Health Promotion Planning, An Educational and Environtmental Approach, Second Edition, Mayfield Publishing Company. 1991

Tinggalkan komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.